Tradisi

Tradisi Pemakaman Termahal Rambu Solo di Tana Toraja

Rambu Solo merupakan upacara pemakaman yang tujuannya untuk menghormati dan mengantarkan arwah seseorang yang telah meninggal ke alam roh. Tradisi ini berasal dari Suku Toraja yang telah dilaksanakan secara turun menurun. Setiap komunitas di Suku Toraja ini biasanya memiliki upacara pemakaman yang berbeda-beda tergantung komunitasnya. Akan tetapi tujuan utama diadakan upacara ini tetaplah sama. Lebih […]

Oleh Ridwan

Tradisi Pemakaman Termahal Rambu Solo di Tana Toraja
Prosesi dalam upacara Rambu Solo terbagi atas pemakaman dan pertunjukkan kesenian. Foto: Pinterest.Com/Adrian Hartanto Lokaria
Diterbitkan

Rambu Solo merupakan upacara pemakaman yang tujuannya untuk menghormati dan mengantarkan arwah seseorang yang telah meninggal ke alam roh. Tradisi ini berasal dari Suku Toraja yang telah dilaksanakan secara turun menurun. 

Setiap komunitas di Suku Toraja ini biasanya memiliki upacara pemakaman yang berbeda-beda tergantung komunitasnya. Akan tetapi tujuan utama diadakan upacara ini tetaplah sama. Lebih lengkapnya simak artikel berikut:

Mengenal Upacara Rambu Solo

Suku Toraja meyakini bahwa orang yang meninggal arwahnya belum sampai ke alam kubur. Maka dari itu, mereka menganggap orang akan benar-benar telah meninggal jika seluruh kebutuhannya sudah terpenuhi selama upacara. 

Secara harfiah, Rambu Solo berarti sinar yang arahnya ke bawah. Makna upacara Rambu Solo ini sendiri adalah untuk tidak terlalu bergantung pada kekayaan duniawi. Selain itu, ada juga nilai tolong-menolong, kekeluargaan dan gotong royong. 

Rambu Solo memiliki beberapa tingkatan yang disesuaikan dengan status sosialnya. Tingkatan tersebut yaitu sebagai berikut:

  • Upacara Dissili’ 

Upacara ini untuk orang yang memiliki kedudukan paling rendah. Misalkan seperti anaknya yang belum memiliki gigi namun sudah meninggal atau keluarga yang strata sosialnya rendah. 

  • Dipasangbongi

Dipasangbongi termasuk pemakaman untuk masyarakat biasa. Ritual ini dibagi lagi menjadi 4 bentuk serta mengorbankan babi sebanyak 4 ekor dan kerbau 2 ekor. 

  • Digoya Tedong

Tingkatan ini untuk para kalangan yang memiliki kedudukan bangsawan tingkat menengah. Upacara terdiri dari 3 jenis dan  dilaksanakan selama 3-7 hari dan jumlah kurban juga bervariasi sekitar 3 sampai 7 ekor. 

  • Rapasan

Upacara Rapasan merupakan tingkatan paling tinggi yang biasanya dilakukan oleh kalangan bangsawan kelas tinggi. Biasanya diselenggarakan selama 2 kali dalam setahun. Jumlah hewan yang dikorbankan juga jauh lebih banyak. Bisa mencapai hingga 100 ekor. 

Baca juga: Mengenal Lolai, Negeri di Atas Awan Tana Toraja

Prosesi Rambu Solo

Pelaksanaan Rambu Solo biasanya memakan biaya yang sangat tinggi terlebih jika dilakukan oleh bangsawan kelas tinggi. Upacara ini ditandai dengan penyembelihan hewan korban sebagai wujud ikatan kekeluargaan. 

Prosesi dalam upacara Rambu Solo terbagi atas pemakaman dan pertunjukkan kesenian. Lama waktunya tergantung dari tingkatan yang diadakan, bisa sampai 3 atau 7 hari. Untuk tempat pelaksanaannya berada di tengah kompleks rumah adat Tongkonan. 

Tahapannya sendiri terbagi menjadi beberapa bagian. Pertama yaitu proses pembungkusan jenazah atau disebut Ma’Tudan Mebalun. Kedua yaitu Ma’Roto yang merupakan proses menghias peti jenazah menggunakan benang perak dan benang emas.

Tahapan selanjutnya yaitu Ma’Popengkalo Alang, merupakan proses penurunan jenazah ke liang lahat.  Terakhir adalah Ma’Palao atau Ma’Pasonglo, yaitu pengantaran jenazah dari rumah Tongkonan ke Lakkian, yaitu kompleks pemakamannya.

Bisa disimpulkan bahwa Rambu Solo merupakan tradisi masyarakat Toraja yang penting. Karena mereka mempercayai bahwa jika upacara tidak diselenggarakan. Maka, orang yang ditinggalkan akan mengalami kemalangan. 

Hingga saat ini, upacara tradisi Rambu Solo masih banyak diadakan di Toraja. Bahkan menarik perhatian wisatawan untuk berkunjung dan ikut memeriahkan acara. (Anisa Kurniawati-Berbagai Sumber) 

TopikTradisi
Tradisi07 OKT 2024

Tentang Penulis

Ridwan

Ridwan

Mengawali kariernya sebagai wartawan surat kabar, lalu melintasi media online, tabloid, majalah, hingga menjadi produser televisi. Berbekal pengalaman jurnalistik tersebut, ia kini aktif menulis isu-isu budaya, pariwisata, sejarah, hingga politik.

Lihat semua tulisan

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Tradisi

Lihat semua →

Lainnya dari Ridwan

Lihat semua →