Ruwatan menjadi salah satu tradisi yang masih dikenal dalam kehidupan masyarakat Jawa hingga sekarang. Upacara ini secara tradisional dilakukan sebagai bentuk permohonan keselamatan dan pembebasan seseorang dari keadaan yang dipercaya dapat membawa gangguan atau kesialan.
Istilah ruwatan berkaitan dengan pengertian melepaskan atau membebaskan, sementara orang yang menjadi objek ruwatan dikenal dengan istilah sukerta. Dalam praktik kebudayaan Jawa, bentuk pelaksanaannya berkembang beragam dan tidak seluruh masyarakat menjalankannya dengan tata cara yang sama.
Ruwatan dan Konsep Sukerta
Konsep sukerta menjadi bagian penting dalam tradisi ruwatan karena merujuk kepada seseorang yang berdasarkan kepercayaan tradisional dianggap berada dalam kondisi tertentu dan perlu diruwat. Penggolongan tersebut dapat berkaitan dengan urutan kelahiran, jumlah saudara maupun keadaan tertentu yang dikenal dalam tradisi Jawa.
Beberapa istilah yang dikenal antara lain ontang-anting untuk anak tunggal laki-laki dan unting-unting untuk anak tunggal perempuan. Ada pula uger-uger lawang untuk dua anak yang seluruhnya laki-laki, kembang sepasang untuk dua anak perempuan, serta sejumlah kategori lain yang berkembang dalam tradisi.
Penggolongan tersebut perlu ditempatkan dalam konteks kepercayaan dan kebudayaan masyarakat yang menjalankannya. Ruwatan bukan metode ilmiah untuk menentukan nasib seseorang, melainkan bagian dari sistem simbol, ritual, dan pandangan hidup yang diwariskan dalam lingkungan budaya Jawa.
Batara Kala dalam Cerita Ruwatan
Salah satu dasar cerita yang banyak dikaitkan dengan ruwatan berasal dari dunia pewayangan dan tokoh Batara Kala. Dalam tradisi tersebut, Batara Kala digambarkan memiliki hubungan dengan ancaman terhadap manusia yang termasuk golongan sukerta.
Kisah mengenai Batara Kala kemudian berkembang dalam lakon yang digunakan pada pelaksanaan ruwatan. Salah satu yang paling dikenal adalah Murwakala, yang menempatkan proses pembebasan manusia dari ancaman Batara Kala sebagai bagian penting dari cerita.
Catatan mengenai perkembangan ruwatan Murwakala juga menunjukkan perjalanan panjang tradisi tersebut. Sumber yang dirujuk detikJateng menyebut pertunjukan ruwatan dengan lakon Murwakala telah berkembang setidaknya sejak awal abad ke-17 dan kemudian menggunakan wayang kulit purwa sebagai salah satu medianya.
Wayang dan Peran Dalang dalam Ruwatan
Dalam ruwatan yang menggunakan wayang kulit, dalang mempunyai fungsi yang berbeda dibandingkan pertunjukan wayang untuk hiburan biasa. Dalang memimpin jalannya pertunjukan dengan lakon tertentu sekaligus menjalankan bagian-bagian ritual sesuai tradisi yang digunakan.
Murwakala menjadi salah satu lakon yang sangat erat dikaitkan dengan ruwatan, meskipun terdapat sumber yang mencatat penggunaan cerita atau bentuk pertunjukan lainnya. Tradisi ruwatan sendiri mengalami perkembangan sehingga bentuk pelaksanaannya dapat berbeda berdasarkan daerah, komunitas dan tujuan penyelenggaraan.
Perlengkapan ritual juga dapat menyertai pelaksanaan ruwatan, termasuk berbagai bentuk sesaji. Jenis dan susunannya tidak semestinya dipahami sebagai satu standar tunggal untuk seluruh masyarakat Jawa karena praktik kebudayaan dapat memiliki variasi.
Makna Keselamatan dalam Ruwatan
Tujuan yang paling sering dikaitkan dengan ruwatan adalah permohonan keselamatan bagi orang yang menjalani ritual tersebut. Dalam kepercayaan masyarakat pendukungnya, seseorang diharapkan terbebas dari gangguan, malapetaka atau keadaan buruk setelah menjalani prosesi.
Makna tersebut membuat ruwatan tidak hanya berkaitan dengan pertunjukan wayang atau perlengkapan upacara. Di dalamnya terdapat pandangan masyarakat mengenai keselamatan, hubungan manusia dengan lingkungan sosialnya, serta cara menghadapi sesuatu yang dianggap dapat mengganggu keseimbangan kehidupan.
Dalam perkembangannya, ruwatan juga dapat dilaksanakan secara bersama-sama atau massal. Bentuk tersebut memungkinkan sejumlah peserta mengikuti satu rangkaian upacara dan menunjukkan bagaimana tradisi mengalami penyesuaian dalam praktik masyarakat masa kini.
Bentuk Ruwatan Mengalami Perkembangan
Kajian mengenai ruwatan mencatat adanya berbagai bentuk pelaksanaan, mulai dari selamatan hingga ruwatan yang menggunakan pertunjukan wayang beber dan wayang kulit. Terdapat pula ruwatan massal serta bentuk-bentuk lain yang berkembang dengan tujuan dan tata pelaksanaan berbeda.
Sumber yang lebih baru juga mengelompokkan ruwatan Jawa antara lain menjadi Murwakala, Makukuhan dan Sudamala berdasarkan cerita serta tujuan ritualnya. Perbedaan klasifikasi tersebut menunjukkan bahwa istilah ruwatan digunakan untuk praktik yang cukup beragam dan tidak tepat apabila seluruhnya dianggap mempunyai satu bentuk baku.
Perubahan juga terlihat pada cara masyarakat memaknai ruwatan. Sebagian masih menjalankannya berdasarkan kepercayaan keluarga, sementara dalam konteks lain ruwatan dipertahankan sebagai bagian dari tradisi, pertunjukan budaya dan upaya meneruskan pengetahuan antargenerasi.
Warisan Budaya yang Masih Dipraktikkan
Keberadaan ruwatan hingga masa sekarang menunjukkan bahwa tradisi dapat bertahan sekaligus mengalami perubahan. Unsur wayang, istilah sukerta, cerita Batara Kala dan lakon Murwakala menjadi bagian dari pengetahuan budaya yang terus dikenalkan melalui berbagai penyelenggaraan dan dokumentasi.
Pelestarian ruwatan karena itu tidak hanya berkaitan dengan mempertahankan pelaksanaan ritual. Dokumentasi terhadap lakon, tata upacara, istilah, perlengkapan, musik, hingga pengetahuan para dalang juga penting karena masing-masing merupakan bagian dari tradisi tersebut.
Pemahaman terhadap konteks juga diperlukan ketika ruwatan diperkenalkan kepada generasi yang tidak lagi hidup dalam lingkungan kepercayaan yang sama. Informasi mengenai ritual perlu membedakan antara catatan budaya, kepercayaan masyarakat dan fakta yang dapat dibuktikan secara ilmiah.
Ruwatan pada akhirnya memperlihatkan salah satu cara masyarakat Jawa membangun simbol mengenai keselamatan dan pembebasan melalui ritual. Tradisi ini juga menyimpan hubungan dengan seni pertunjukan, terutama wayang, yang membuat proses pewarisannya melibatkan lebih dari sekadar sebuah upacara.






