Warisan Budaya

Upacara Adat Tengger, Warisan yang Menjaga Kebersamaan di Lereng Bromo

Masyarakat Tengger yang hidup di kawasan pegunungan Bromo memiliki tradisi yang tetap dijalankan di tengah perubahan zaman. Sejumlah upacara adat hadir dalam kehidupan komunal maupun perjalanan seseorang, mulai dari Yadnya Kasada, Unan-Unan, Karo, Entas-Entas hingga Tugel Kuncung. Masing-masing tradisi mempunyai tujuan, waktu pelaksanaan dan tata cara yang berbeda. Namun secara umum, rangkaian tersebut memperlihatkan hubungan […]

Oleh Narendra

Upacara Adat Tengger, Warisan yang Menjaga Kebersamaan di Lereng Bromo
Masyarakat Tengger memiliki sejumlah upacara adat yang terus diwariskan, mulai dari Yadnya Kasada, Karo, Unan-Unan, Entas-Entas hingga Tugel Kuncung. Tradisi tersebut menjadi bagian dari kehidupan sosial, spiritual dan hubungan antargenerasi masyarakat di kawasan Bromo.
Diterbitkan

Masyarakat Tengger yang hidup di kawasan pegunungan Bromo memiliki tradisi yang tetap dijalankan di tengah perubahan zaman. Sejumlah upacara adat hadir dalam kehidupan komunal maupun perjalanan seseorang, mulai dari Yadnya Kasada, Unan-Unan, Karo, Entas-Entas hingga Tugel Kuncung.

Masing-masing tradisi mempunyai tujuan, waktu pelaksanaan dan tata cara yang berbeda. Namun secara umum, rangkaian tersebut memperlihatkan hubungan masyarakat dengan Sang Pencipta, keluarga, leluhur, lingkungan dan komunitas tempat mereka hidup.

Yadnya Kasada dan Hubungan dengan Bromo

Yadnya Kasada menjadi salah satu tradisi masyarakat Tengger yang paling dikenal luas dan dilaksanakan pada bulan Kasada dalam penanggalan Tengger. Upacara ini berkaitan dengan ungkapan syukur dan permohonan keselamatan yang dijalankan berdasarkan keyakinan masyarakat setempat.

Rangkaian Kasada juga berhubungan dengan cerita Rara Anteng dan Jaka Seger yang diwariskan dalam masyarakat Tengger. Kisah tersebut menjadi bagian dari ingatan budaya yang menjelaskan hubungan masyarakat dengan Gunung Bromo dan tradisi persembahan yang terus dijalankan.

Dalam pelaksanaannya, masyarakat membawa hasil bumi dan berbagai perlengkapan upacara menuju kawasan Bromo. Hasil pertanian yang dibawa sekaligus menunjukkan kuatnya hubungan kehidupan masyarakat Tengger dengan tanah pegunungan yang selama ini menjadi salah satu sumber penghidupan mereka.

Kasada karena itu tidak hanya dikenal melalui prosesi di kawasan kawah. Tradisi tersebut juga menjadi ruang pewarisan pengetahuan mengenai sejarah lokal, tata upacara dan identitas masyarakat Tengger kepada generasi berikutnya.

Unan-Unan dan Kehidupan Bersama

Tradisi lain yang memiliki kedudukan penting adalah Unan-Unan, upacara yang diselenggarakan sekali dalam satu windu Tengger. Berbeda dengan pengertian windu dalam kalender Jawa yang lazim dipahami sebagai delapan tahun, satu windu dalam kalender Tengger berlangsung selama lima tahun.

Dalam keyakinan masyarakat pendukungnya, Unan-Unan berkaitan dengan penyucian desa serta upaya menjaga keseimbangan kehidupan. Pelaksanaannya melibatkan Dukun Pandita, perlengkapan ritual, hasil bumi dan partisipasi masyarakat.

Kebersamaan menjadi salah satu unsur yang terlihat kuat dalam pelaksanaan tradisi tersebut. Dalam sejumlah pelaksanaan Unan-Unan, anak-anak, remaja hingga orang tua berjalan bersama membawa hasil bumi menuju lokasi prosesi.

Keterlibatan lintas generasi membuat Unan-Unan sekaligus menjadi ruang pewarisan budaya secara langsung. Generasi muda tidak hanya mengetahui nama tradisi dari cerita, tetapi dapat menyaksikan bagaimana masyarakat mempersiapkan dan menjalankannya.

Karo sebagai Ruang Syukur dan Pertemuan

Masyarakat Tengger juga mengenal Upacara Karo yang berlangsung pada bulan Karo dalam penanggalan mereka. Tradisi ini berkaitan dengan ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta sekaligus penghormatan kepada leluhur.

Rangkaian Karo dapat berlangsung selama beberapa hari dengan berbagai tahapan yang dipimpin oleh pemangku adat. Dalam beberapa komunitas Tengger, tradisi ini juga menjadi kesempatan bagi keluarga dan masyarakat untuk bertemu serta memperkuat hubungan sosial.

Nilai kebersamaan menjadi bagian yang penting karena sebuah tradisi tidak hanya bertahan melalui ritual. Hubungan antarmanusia yang terbangun selama persiapan hingga pelaksanaan turut menjaga keberlanjutan pengetahuan budaya di dalam masyarakat.

Karo juga memperlihatkan bagaimana adat dapat menjadi ruang pertemuan lintas generasi. Orang tua membawa pengetahuan yang telah diterima sebelumnya, sementara generasi muda memperoleh kesempatan untuk mengenali tradisi melalui pengalaman langsung.

Entas-Entas dan Penghormatan kepada Leluhur

Dalam perjalanan kehidupan masyarakat Tengger terdapat pula Entas-Entas, tradisi yang berkaitan dengan penghormatan terhadap anggota keluarga atau leluhur yang telah meninggal. Pelaksanaannya dipimpin Dukun Pandita dan dapat berlangsung selama beberapa hari dengan sejumlah tahapan.

Dalam keyakinan masyarakat Tengger, Entas-Entas memiliki pemaknaan spiritual berkaitan dengan orang yang telah meninggal dunia. EMMANUS menempatkan pemaknaan tersebut sebagai bagian dari sistem kepercayaan masyarakat yang menjalankan tradisi.

Dari sisi budaya, Entas-Entas menunjukkan kuatnya ingatan keluarga terhadap generasi sebelumnya. Tradisi menjadi ruang bagi keluarga untuk berkumpul sekaligus mempertahankan pengetahuan mengenai tata cara penghormatan yang diwariskan oleh leluhur.

Hubungan antargenerasi menjadi bagian penting dari praktik tersebut. Ingatan kepada orang yang telah meninggal tidak hanya tersimpan melalui cerita keluarga, tetapi juga diteruskan melalui tata upacara yang memiliki aturan dan simbol tersendiri.

Tugel Kuncung dan Tahapan Kehidupan

Tugel Kuncung merupakan tradisi yang berkaitan dengan salah satu tahapan perjalanan hidup seseorang dalam masyarakat Tengger. Dalam pelaksanaannya terdapat prosesi pemotongan rambut yang dilakukan oleh pemimpin ritual setelah rangkaian doa.

Tradisi ini antara lain dikenal di lingkungan masyarakat Tengger di Desa Wonokerso, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo. Tugel Kuncung dapat dilaksanakan menjelang tahapan kehidupan tertentu dan dalam praktik setempat dapat berkaitan dengan khitanan atau perkawinan.

Keberadaan Tugel Kuncung memperlihatkan bahwa adat Tengger tidak hanya berkaitan dengan kegiatan komunal berskala besar. Tradisi juga hadir dalam perjalanan individu dan keluarga ketika seseorang memasuki fase baru kehidupannya.

Keluarga mempunyai peran penting dalam mempertahankan tradisi tersebut. Pengetahuan mengenai kapan prosesi dilaksanakan dan bagaimana tata caranya diteruskan melalui pengalaman masyarakat yang masih menjalankannya.

Tradisi sebagai Ruang Pewarisan Budaya

Kasada, Unan-Unan, Karo, Entas-Entas dan Tugel Kuncung menunjukkan bahwa kehidupan budaya masyarakat Tengger mempunyai cakupan yang luas. Ada tradisi yang melibatkan masyarakat secara bersama-sama, sementara lainnya berkaitan dengan perjalanan individu dan keluarga.

Dukun Pandita mempunyai posisi penting dalam keberlanjutan berbagai ritual tersebut. Pengetahuan mengenai mantra, penanggalan, tata prosesi dan perlengkapan upacara membutuhkan proses pewarisan agar tidak berhenti pada satu generasi.

Di tengah berkembangnya Bromo sebagai destinasi pariwisata, tradisi Tengger juga semakin banyak disaksikan masyarakat dari luar komunitas. Kondisi tersebut membuka kesempatan untuk mengenalkan kekayaan budaya, sekaligus membutuhkan penghormatan terhadap ruang ritual dan masyarakat yang menjadi pemilik tradisi.

Upacara adat Tengger pada akhirnya bukan sekadar rangkaian prosesi yang bertahan dari masa lalu. Di dalamnya terdapat kebersamaan, rasa syukur, penghormatan terhadap keluarga dan leluhur, hubungan dengan lingkungan, serta pengetahuan budaya yang terus diteruskan di lereng Bromo.

 

Masyarakat Tengger yang hidup di kawasan pegunungan Bromo memiliki tradisi yang tetap dijalankan di tengah perubahan zaman. Sejumlah upacara adat hadir dalam kehidupan komunal maupun perjalanan seseorang, mulai dari Yadnya Kasada, Unan-Unan, Karo, Entas-Entas hingga Tugel Kuncung.

Masing-masing tradisi mempunyai tujuan, waktu pelaksanaan dan tata cara yang berbeda. Namun secara umum, rangkaian tersebut memperlihatkan hubungan masyarakat dengan Sang Pencipta, keluarga, leluhur, lingkungan dan komunitas tempat mereka hidup.

Yadnya Kasada dan Hubungan dengan Bromo

Yadnya Kasada menjadi salah satu tradisi masyarakat Tengger yang paling dikenal luas dan dilaksanakan pada bulan Kasada dalam penanggalan Tengger. Upacara ini berkaitan dengan ungkapan syukur dan permohonan keselamatan yang dijalankan berdasarkan keyakinan masyarakat setempat.

Rangkaian Kasada juga berhubungan dengan cerita Rara Anteng dan Jaka Seger yang diwariskan dalam masyarakat Tengger. Kisah tersebut menjadi bagian dari ingatan budaya yang menjelaskan hubungan masyarakat dengan Gunung Bromo dan tradisi persembahan yang terus dijalankan.

Dalam pelaksanaannya, masyarakat membawa hasil bumi dan berbagai perlengkapan upacara menuju kawasan Bromo. Hasil pertanian yang dibawa sekaligus menunjukkan kuatnya hubungan kehidupan masyarakat Tengger dengan tanah pegunungan yang selama ini menjadi salah satu sumber penghidupan mereka.

Kasada karena itu tidak hanya dikenal melalui prosesi di kawasan kawah. Tradisi tersebut juga menjadi ruang pewarisan pengetahuan mengenai sejarah lokal, tata upacara dan identitas masyarakat Tengger kepada generasi berikutnya.

Unan-Unan dan Kehidupan Bersama

Tradisi lain yang memiliki kedudukan penting adalah Unan-Unan, upacara yang diselenggarakan sekali dalam satu windu Tengger. Berbeda dengan pengertian windu dalam kalender Jawa yang lazim dipahami sebagai delapan tahun, satu windu dalam kalender Tengger berlangsung selama lima tahun.

Dalam keyakinan masyarakat pendukungnya, Unan-Unan berkaitan dengan penyucian desa serta upaya menjaga keseimbangan kehidupan. Pelaksanaannya melibatkan Dukun Pandita, perlengkapan ritual, hasil bumi dan partisipasi masyarakat.

Kebersamaan menjadi salah satu unsur yang terlihat kuat dalam pelaksanaan tradisi tersebut. Dalam sejumlah pelaksanaan Unan-Unan, anak-anak, remaja hingga orang tua berjalan bersama membawa hasil bumi menuju lokasi prosesi.

Keterlibatan lintas generasi membuat Unan-Unan sekaligus menjadi ruang pewarisan budaya secara langsung. Generasi muda tidak hanya mengetahui nama tradisi dari cerita, tetapi dapat menyaksikan bagaimana masyarakat mempersiapkan dan menjalankannya.

Karo sebagai Ruang Syukur dan Pertemuan

Masyarakat Tengger juga mengenal Upacara Karo yang berlangsung pada bulan Karo dalam penanggalan mereka. Tradisi ini berkaitan dengan ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta sekaligus penghormatan kepada leluhur.

Rangkaian Karo dapat berlangsung selama beberapa hari dengan berbagai tahapan yang dipimpin oleh pemangku adat. Dalam beberapa komunitas Tengger, tradisi ini juga menjadi kesempatan bagi keluarga dan masyarakat untuk bertemu serta memperkuat hubungan sosial.

Nilai kebersamaan menjadi bagian yang penting karena sebuah tradisi tidak hanya bertahan melalui ritual. Hubungan antarmanusia yang terbangun selama persiapan hingga pelaksanaan turut menjaga keberlanjutan pengetahuan budaya di dalam masyarakat.

Karo juga memperlihatkan bagaimana adat dapat menjadi ruang pertemuan lintas generasi. Orang tua membawa pengetahuan yang telah diterima sebelumnya, sementara generasi muda memperoleh kesempatan untuk mengenali tradisi melalui pengalaman langsung.

Entas-Entas dan Penghormatan kepada Leluhur

Dalam perjalanan kehidupan masyarakat Tengger terdapat pula Entas-Entas, tradisi yang berkaitan dengan penghormatan terhadap anggota keluarga atau leluhur yang telah meninggal. Pelaksanaannya dipimpin Dukun Pandita dan dapat berlangsung selama beberapa hari dengan sejumlah tahapan.

Dalam keyakinan masyarakat Tengger, Entas-Entas memiliki pemaknaan spiritual berkaitan dengan orang yang telah meninggal dunia. EMMANUS menempatkan pemaknaan tersebut sebagai bagian dari sistem kepercayaan masyarakat yang menjalankan tradisi.

Dari sisi budaya, Entas-Entas menunjukkan kuatnya ingatan keluarga terhadap generasi sebelumnya. Tradisi menjadi ruang bagi keluarga untuk berkumpul sekaligus mempertahankan pengetahuan mengenai tata cara penghormatan yang diwariskan oleh leluhur.

Hubungan antargenerasi menjadi bagian penting dari praktik tersebut. Ingatan kepada orang yang telah meninggal tidak hanya tersimpan melalui cerita keluarga, tetapi juga diteruskan melalui tata upacara yang memiliki aturan dan simbol tersendiri.

Tugel Kuncung dan Tahapan Kehidupan

Tugel Kuncung merupakan tradisi yang berkaitan dengan salah satu tahapan perjalanan hidup seseorang dalam masyarakat Tengger. Dalam pelaksanaannya terdapat prosesi pemotongan rambut yang dilakukan oleh pemimpin ritual setelah rangkaian doa.

Tradisi ini antara lain dikenal di lingkungan masyarakat Tengger di Desa Wonokerso, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo. Tugel Kuncung dapat dilaksanakan menjelang tahapan kehidupan tertentu dan dalam praktik setempat dapat berkaitan dengan khitanan atau perkawinan.

Keberadaan Tugel Kuncung memperlihatkan bahwa adat Tengger tidak hanya berkaitan dengan kegiatan komunal berskala besar. Tradisi juga hadir dalam perjalanan individu dan keluarga ketika seseorang memasuki fase baru kehidupannya.

Keluarga mempunyai peran penting dalam mempertahankan tradisi tersebut. Pengetahuan mengenai kapan prosesi dilaksanakan dan bagaimana tata caranya diteruskan melalui pengalaman masyarakat yang masih menjalankannya.

Tradisi sebagai Ruang Pewarisan Budaya

Kasada, Unan-Unan, Karo, Entas-Entas dan Tugel Kuncung menunjukkan bahwa kehidupan budaya masyarakat Tengger mempunyai cakupan yang luas. Ada tradisi yang melibatkan masyarakat secara bersama-sama, sementara lainnya berkaitan dengan perjalanan individu dan keluarga.

Dukun Pandita mempunyai posisi penting dalam keberlanjutan berbagai ritual tersebut. Pengetahuan mengenai mantra, penanggalan, tata prosesi dan perlengkapan upacara membutuhkan proses pewarisan agar tidak berhenti pada satu generasi.

Di tengah berkembangnya Bromo sebagai destinasi pariwisata, tradisi Tengger juga semakin banyak disaksikan masyarakat dari luar komunitas. Kondisi tersebut membuka kesempatan untuk mengenalkan kekayaan budaya, sekaligus membutuhkan penghormatan terhadap ruang ritual dan masyarakat yang menjadi pemilik tradisi.

Upacara adat Tengger pada akhirnya bukan sekadar rangkaian prosesi yang bertahan dari masa lalu. Di dalamnya terdapat kebersamaan, rasa syukur, penghormatan terhadap keluarga dan leluhur, hubungan dengan lingkungan, serta pengetahuan budaya yang terus diteruskan di lereng Bromo.

 

Masyarakat Tengger yang hidup di kawasan pegunungan Bromo memiliki tradisi yang tetap dijalankan di tengah perubahan zaman. Sejumlah upacara adat hadir dalam kehidupan komunal maupun perjalanan seseorang, mulai dari Yadnya Kasada, Unan-Unan, Karo, Entas-Entas hingga Tugel Kuncung.

Masing-masing tradisi mempunyai tujuan, waktu pelaksanaan dan tata cara yang berbeda. Namun secara umum, rangkaian tersebut memperlihatkan hubungan masyarakat dengan Sang Pencipta, keluarga, leluhur, lingkungan dan komunitas tempat mereka hidup.

Yadnya Kasada dan Hubungan dengan Bromo

Yadnya Kasada menjadi salah satu tradisi masyarakat Tengger yang paling dikenal luas dan dilaksanakan pada bulan Kasada dalam penanggalan Tengger. Upacara ini berkaitan dengan ungkapan syukur dan permohonan keselamatan yang dijalankan berdasarkan keyakinan masyarakat setempat.

Rangkaian Kasada juga berhubungan dengan cerita Rara Anteng dan Jaka Seger yang diwariskan dalam masyarakat Tengger. Kisah tersebut menjadi bagian dari ingatan budaya yang menjelaskan hubungan masyarakat dengan Gunung Bromo dan tradisi persembahan yang terus dijalankan.

Dalam pelaksanaannya, masyarakat membawa hasil bumi dan berbagai perlengkapan upacara menuju kawasan Bromo. Hasil pertanian yang dibawa sekaligus menunjukkan kuatnya hubungan kehidupan masyarakat Tengger dengan tanah pegunungan yang selama ini menjadi salah satu sumber penghidupan mereka.

Kasada karena itu tidak hanya dikenal melalui prosesi di kawasan kawah. Tradisi tersebut juga menjadi ruang pewarisan pengetahuan mengenai sejarah lokal, tata upacara dan identitas masyarakat Tengger kepada generasi berikutnya.

Unan-Unan dan Kehidupan Bersama

Tradisi lain yang memiliki kedudukan penting adalah Unan-Unan, upacara yang diselenggarakan sekali dalam satu windu Tengger. Berbeda dengan pengertian windu dalam kalender Jawa yang lazim dipahami sebagai delapan tahun, satu windu dalam kalender Tengger berlangsung selama lima tahun.

Dalam keyakinan masyarakat pendukungnya, Unan-Unan berkaitan dengan penyucian desa serta upaya menjaga keseimbangan kehidupan. Pelaksanaannya melibatkan Dukun Pandita, perlengkapan ritual, hasil bumi dan partisipasi masyarakat.

Kebersamaan menjadi salah satu unsur yang terlihat kuat dalam pelaksanaan tradisi tersebut. Dalam sejumlah pelaksanaan Unan-Unan, anak-anak, remaja hingga orang tua berjalan bersama membawa hasil bumi menuju lokasi prosesi.

Keterlibatan lintas generasi membuat Unan-Unan sekaligus menjadi ruang pewarisan budaya secara langsung. Generasi muda tidak hanya mengetahui nama tradisi dari cerita, tetapi dapat menyaksikan bagaimana masyarakat mempersiapkan dan menjalankannya.

Karo sebagai Ruang Syukur dan Pertemuan

Masyarakat Tengger juga mengenal Upacara Karo yang berlangsung pada bulan Karo dalam penanggalan mereka. Tradisi ini berkaitan dengan ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta sekaligus penghormatan kepada leluhur.

Rangkaian Karo dapat berlangsung selama beberapa hari dengan berbagai tahapan yang dipimpin oleh pemangku adat. Dalam beberapa komunitas Tengger, tradisi ini juga menjadi kesempatan bagi keluarga dan masyarakat untuk bertemu serta memperkuat hubungan sosial.

Nilai kebersamaan menjadi bagian yang penting karena sebuah tradisi tidak hanya bertahan melalui ritual. Hubungan antarmanusia yang terbangun selama persiapan hingga pelaksanaan turut menjaga keberlanjutan pengetahuan budaya di dalam masyarakat.

Karo juga memperlihatkan bagaimana adat dapat menjadi ruang pertemuan lintas generasi. Orang tua membawa pengetahuan yang telah diterima sebelumnya, sementara generasi muda memperoleh kesempatan untuk mengenali tradisi melalui pengalaman langsung.

Entas-Entas dan Penghormatan kepada Leluhur

Dalam perjalanan kehidupan masyarakat Tengger terdapat pula Entas-Entas, tradisi yang berkaitan dengan penghormatan terhadap anggota keluarga atau leluhur yang telah meninggal. Pelaksanaannya dipimpin Dukun Pandita dan dapat berlangsung selama beberapa hari dengan sejumlah tahapan.

Dalam keyakinan masyarakat Tengger, Entas-Entas memiliki pemaknaan spiritual berkaitan dengan orang yang telah meninggal dunia. EMMANUS menempatkan pemaknaan tersebut sebagai bagian dari sistem kepercayaan masyarakat yang menjalankan tradisi.

Dari sisi budaya, Entas-Entas menunjukkan kuatnya ingatan keluarga terhadap generasi sebelumnya. Tradisi menjadi ruang bagi keluarga untuk berkumpul sekaligus mempertahankan pengetahuan mengenai tata cara penghormatan yang diwariskan oleh leluhur.

Hubungan antargenerasi menjadi bagian penting dari praktik tersebut. Ingatan kepada orang yang telah meninggal tidak hanya tersimpan melalui cerita keluarga, tetapi juga diteruskan melalui tata upacara yang memiliki aturan dan simbol tersendiri.

Tugel Kuncung dan Tahapan Kehidupan

Tugel Kuncung merupakan tradisi yang berkaitan dengan salah satu tahapan perjalanan hidup seseorang dalam masyarakat Tengger. Dalam pelaksanaannya terdapat prosesi pemotongan rambut yang dilakukan oleh pemimpin ritual setelah rangkaian doa.

Tradisi ini antara lain dikenal di lingkungan masyarakat Tengger di Desa Wonokerso, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo. Tugel Kuncung dapat dilaksanakan menjelang tahapan kehidupan tertentu dan dalam praktik setempat dapat berkaitan dengan khitanan atau perkawinan.

Keberadaan Tugel Kuncung memperlihatkan bahwa adat Tengger tidak hanya berkaitan dengan kegiatan komunal berskala besar. Tradisi juga hadir dalam perjalanan individu dan keluarga ketika seseorang memasuki fase baru kehidupannya.

Keluarga mempunyai peran penting dalam mempertahankan tradisi tersebut. Pengetahuan mengenai kapan prosesi dilaksanakan dan bagaimana tata caranya diteruskan melalui pengalaman masyarakat yang masih menjalankannya.

Tradisi sebagai Ruang Pewarisan Budaya

Kasada, Unan-Unan, Karo, Entas-Entas dan Tugel Kuncung menunjukkan bahwa kehidupan budaya masyarakat Tengger mempunyai cakupan yang luas. Ada tradisi yang melibatkan masyarakat secara bersama-sama, sementara lainnya berkaitan dengan perjalanan individu dan keluarga.

Dukun Pandita mempunyai posisi penting dalam keberlanjutan berbagai ritual tersebut. Pengetahuan mengenai mantra, penanggalan, tata prosesi dan perlengkapan upacara membutuhkan proses pewarisan agar tidak berhenti pada satu generasi.

Di tengah berkembangnya Bromo sebagai destinasi pariwisata, tradisi Tengger juga semakin banyak disaksikan masyarakat dari luar komunitas. Kondisi tersebut membuka kesempatan untuk mengenalkan kekayaan budaya, sekaligus membutuhkan penghormatan terhadap ruang ritual dan masyarakat yang menjadi pemilik tradisi.

Upacara adat Tengger pada akhirnya bukan sekadar rangkaian prosesi yang bertahan dari masa lalu. Di dalamnya terdapat kebersamaan, rasa syukur, penghormatan terhadap keluarga dan leluhur, hubungan dengan lingkungan, serta pengetahuan budaya yang terus diteruskan di lereng Bromo.

 

CATATAN REDAKSI

 

EMMANUS memandang upacara adat Tengger sebagai bagian dari kekayaan budaya masyarakat yang perlu dipahami sesuai konteksnya. Unsur mengenai leluhur, penyucian dan keselamatan dalam artikel ditempatkan sebagai bagian dari keyakinan masyarakat pendukung tradisi, sementara nilai rasa syukur, kebersamaan, penghormatan terhadap keluarga, hubungan dengan lingkungan dan pewarisan pengetahuan menjadi bagian penting dari warisan budaya Tengger.

 

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT