Dinamika

Ketika Hidup Orang Lain Bukan Lagi Urusan Kita

Dahulu mungkin kita tidak pernah bertanya apa bahasa daerah untuk kasih sayang. Ketika seseorang sakit, tetangga datang; ketika sebuah keluarga berduka, dapur rumah lain ikut menyala. Ketika orang tua kesulitan membawa sesuatu, ada tangan yang mengambil sebagian bebannya. Ketika sebuah rumah mempunyai sedikit makanan sementara rumah lain sedang kesusahan, sesuatu masih dapat dibagi meskipun yang […]

Oleh Narendra

Ketika Hidup Orang Lain Bukan Lagi Urusan Kita
Kasih kepada sesama mempunyai banyak bahasa dalam kebudayaan Nusantara. Bentuknya dapat berubah mengikuti zaman, tetapi nilai dasarnya hidup ketika manusia masih melihat kehidupan orang lain sebagai sesuatu yang patut dipedulikan.
Diterbitkan

Dahulu mungkin kita tidak pernah bertanya apa bahasa daerah untuk kasih sayang. Ketika seseorang sakit, tetangga datang; ketika sebuah keluarga berduka, dapur rumah lain ikut menyala.

Ketika orang tua kesulitan membawa sesuatu, ada tangan yang mengambil sebagian bebannya. Ketika sebuah rumah mempunyai sedikit makanan sementara rumah lain sedang kesusahan, sesuatu masih dapat dibagi meskipun yang dimiliki tidak banyak.

Tidak selalu ada nama untuk tindakan-tindakan kecil itu. Orang hanya melakukannya karena kehidupan orang lain terasa mempunyai hubungan dengan kehidupannya sendiri.

Hari ini kita hidup dalam dunia yang jauh lebih terhubung. Kita dapat mengetahui musibah seseorang ribuan kilometer jauhnya hanya beberapa detik setelah terjadi, melihat kesedihan orang yang belum pernah kita temui, dan mengirim pesan kepada manusia di belahan dunia lain tanpa meninggalkan kursi.

Namun kemudahan untuk saling mengetahui rupanya tidak selalu membuat manusia benar-benar saling mengenal. Di antara jutaan hubungan yang kini dapat masuk ke dalam sebuah layar, muncul pertanyaan yang sederhana tetapi mengusik: apakah semakin mudah terhubung berarti kita semakin dekat sebagai manusia?

Kasih Mempunyai Banyak Bahasa

Di Jawa kita mengenal ungkapan *welas asih*, yang dalam penggunaan sehari-hari sering berhubungan dengan kasih, kepedulian, dan rasa terhadap kehidupan manusia lain. Tetapi Nusantara terlalu luas untuk diterangkan hanya melalui satu bahasa, sebab setiap masyarakat mempunyai sejarah, pengalaman sosial, sistem kekerabatan, serta kosakata kebudayaannya sendiri.

Dalam kebudayaan Sunda dikenal *silih asah, silih asih, silih asuh*. Sejumlah kajian mengenai kearifan lokal Sunda membaca rangkaian nilai tersebut dalam hubungan saling mengembangkan pengetahuan, saling mengasihi, serta saling membimbing dan memelihara.

Di masyarakat Bugis terdapat *sipakatau, sipakalebbi,* dan *sipakainge*. Ketiganya mempunyai konteks budaya tersendiri, dengan *sipakatau* membawa gagasan penting mengenai cara menempatkan manusia sebagai manusia dalam hubungan sosial.

Di Maluku terdapat Pela-Gandong yang tumbuh melalui sejarah sosial masyarakatnya sendiri. Berbagai penelitian menunjukkan bagaimana ikatan budaya tersebut dapat menjadi salah satu fondasi persaudaraan dan kohesi antarkomunitas, termasuk dalam hubungan masyarakat yang berbeda agama.

Pada masyarakat Batak Toba terdapat Dalihan Na Tolu, sebuah sistem hubungan kekerabatan dengan struktur dan tata relasinya sendiri. Ia bukan terjemahan dari welas asih, tetapi di dalam praktik sosialnya terdapat nilai mengenai penghormatan, pemeliharaan hubungan, solidaritas, serta tanggung jawab dalam kehidupan bersama.

Nama-nama itu tidak sama dan tidak perlu dipaksakan menjadi sama. Namun ketika diletakkan berdampingan, kita menemukan bahwa berbagai masyarakat Nusantara sejak lama mempunyai cara sendiri untuk menjawab satu persoalan yang sangat manusiawi: bagaimana seseorang menempatkan dirinya di tengah kehidupan manusia lain.

Welas Asih Bukan Milik Satu Daerah

Karena istilah *welas asih* sangat akrab dalam bahasa Jawa, mudah bagi kita mengira bahwa pembicaraan mengenai nilai ini merupakan pembicaraan mengenai kebudayaan Jawa. Padahal yang hendak kita telusuri jauh lebih luas daripada sebuah istilah.

Kita sedang membicarakan kemampuan manusia untuk menyadari keberadaan manusia lainnya. Kemampuan untuk tidak melihat kesulitan orang lain hanya sebagai pemandangan yang kebetulan lewat di depan mata.

Bahasanya dapat berbeda, demikian pula cara masyarakat mengungkapkannya. Di satu tempat ia dapat tumbuh melalui hubungan kekerabatan, sementara di tempat lain hadir melalui kewajiban adat, hubungan bertetangga, gotong royong, cara menerima tamu, menjaga orang tua, atau datang ketika sebuah keluarga sedang berduka.

Karena itu kita tidak sedang mencari satu kata yang dapat mewakili seluruh Nusantara. Kita sedang mencari jejak sebuah nilai kemanusiaan yang hidup dalam banyak bahasa dan menemukan bentuknya melalui kebudayaan yang berbeda-beda.

Kasih Bukan Sekadar Rasa Kasihan

Ada perbedaan yang perlu dijaga ketika membicarakan kasih kepada sesama. Kasih tidak selalu sama dengan rasa kasihan.

Kasihan dapat muncul ketika kita melihat seseorang berada dalam keadaan yang lebih sulit daripada diri kita. Tetapi memanusiakan manusia bekerja lebih dalam, karena kita tidak perlu menunggu seseorang jatuh terlebih dahulu untuk menghormati martabatnya.

Di sinilah *sipakatau* dalam kebudayaan Bugis memberi perspektif yang menarik. Sejumlah kajian menempatkannya bersama *sipakalebbi* dan *sipakainge* sebagai nilai dalam hubungan sosial yang antara lain berkaitan dengan memanusiakan, menghargai, dan saling mengingatkan.

Seseorang tidak harus menjadi miskin agar layak dipedulikan, dan ia tidak harus menjadi lemah agar layak dihormati. Ia hanya perlu menjadi manusia.

Kalimat itu terdengar sangat sederhana, tetapi mungkin justru semakin sulit dilakukan ketika kehidupan mengajarkan kita melihat manusia berdasarkan jabatan, kekayaan, pendidikan, pekerjaan, penampilan, jumlah pengikut, atau manfaat yang dapat diberikannya. Ketika nilai seseorang mulai diukur dari apa yang dimiliki, kemampuan melihat manusia sebelum melihat statusnya menjadi semakin penting.

Dahulu Sebuah Kampung Bisa Ikut Merasakan

Ada ingatan yang masih tersisa di banyak tempat di Indonesia. Ketika seseorang meninggal, kabar tidak berhenti di dalam rumah keluarga yang sedang berduka.

Tetangga datang membawa apa yang dapat mereka bawa, dari makanan, tenaga, kursi, hingga sekadar waktu untuk duduk menemani. Tidak semua mempunyai hubungan darah, tetapi kesedihan sebuah keluarga tidak sepenuhnya dianggap sebagai urusan keluarga itu sendiri.

Hal serupa dapat ditemukan dalam pesta, pembangunan rumah, panen, bencana, kelahiran, perkawinan, dan berbagai peristiwa kehidupan lainnya. Banyak masyarakat Nusantara mempunyai mekanisme sosial yang membuat beban kehidupan tidak selalu harus dipikul seorang diri.

Tentu masa lalu tidak boleh kita romantisasi seolah kehidupan dahulu selalu lebih baik. Kampung juga mengenal konflik, prasangka, tekanan sosial, hierarki, dan berbagai persoalan yang sebagian justru perlu ditinggalkan.

Namun struktur sosial yang lebih rapat membuat manusia lebih sering bersinggungan dengan manusia lain. Pertemuan itu memungkinkan seseorang mengetahui bahwa rumah di sebelahnya sedang bergembira, sedang kekurangan, atau sedang berduka.

Ketika Pintu Rumah Semakin Jarang Terbuka

Kehidupan kemudian berubah, dan perubahan itu tidak selalu dapat dinilai sebagai baik atau buruk dengan ukuran sederhana. Kota tumbuh, pekerjaan membawa manusia semakin jauh dari tempat kelahirannya, keluarga menjadi lebih kecil, perjalanan semakin panjang, dan waktu terasa semakin mahal.

Kita dapat tinggal bertahun-tahun dalam satu kompleks tanpa mengetahui siapa yang berada tiga rumah dari tempat tinggal kita. Kita berpapasan di jalan, mengangguk sebentar, lalu kembali kepada kehidupan masing-masing.

Tidak selalu karena manusia menjadi lebih buruk atau sengaja tidak peduli. Kadang-kadang memang tidak tersedia cukup banyak ruang untuk saling bertemu.

Pagi dimulai dengan perjalanan menuju pekerjaan, sore habis di jalan, sementara malam digunakan untuk memulihkan tubuh sebelum esok semuanya dimulai kembali. Akhir pekan yang dahulu dapat menjadi ruang sosial pun sering berubah menjadi waktu untuk menyelesaikan urusan pribadi yang tertunda.

Pintu rumah perlahan lebih sering tertutup. Dan mungkin bersama tertutupnya pintu itu, sebagian hubungan sosial ikut kehilangan ruang untuk tumbuh.

Kita Semakin Terhubung

Lalu datanglah layar yang membuat jarak geografis terasa semakin pendek. Untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia, kita dapat membawa ratusan bahkan ribuan hubungan di dalam sebuah benda yang muat di telapak tangan.

Kita mengetahui ulang tahun seseorang karena aplikasi mengingatkan, mengetahui seseorang menikah dari foto, dan mengetahui teman lama mempunyai anak melalui sebuah unggahan. Kita bahkan dapat mengetahui seseorang sedang berduka tanpa pernah bertemu dengannya selama bertahun-tahun.

Teknologi tidak otomatis membuat manusia kehilangan kepedulian. Sebaliknya, teknologi juga memungkinkan pertolongan bergerak dengan cara yang dahulu sulit dibayangkan.

Penggalangan dana dapat menjangkau ribuan orang dalam hitungan jam, informasi orang hilang dapat tersebar lintas kota, dan korban bencana dapat menerima bantuan dari manusia yang tidak pernah mengenalnya. Komunitas solidaritas pun dapat tumbuh tanpa semua anggotanya pernah duduk di ruangan yang sama.

Ada banyak kebaikan yang lahir melalui layar. Namun layar yang memperluas jangkauan kepedulian juga membawa sebuah paradoks baru.

Satu Sentuhan untuk Peduli

Hari ini kita dapat menunjukkan kepedulian hanya dengan satu sentuhan. Ada simbol hati, tombol berbagi, serta komentar singkat seperti turut berduka, semoga lekas sembuh, tetap kuat, atau kami bersamamu.

Tidak ada yang salah dengan semua itu, sebab sebuah pesan sederhana terkadang mempunyai arti besar bagi seseorang yang sedang menghadapi masa sulit. Kepedulian tidak menjadi kurang tulus hanya karena disampaikan melalui layar.

Namun perhatian digital mempunyai sifat yang berbeda dari perjumpaan fisik. Ia dapat datang dengan cepat dan pergi dengan kecepatan yang sama.

Kita melihat seseorang menangis, berhenti beberapa detik, mengetuk simbol hati, kemudian jari kembali bergerak ke atas. Video berikutnya muncul, disusul makanan, humor, iklan, lalu kehidupan lain yang meminta perhatian kita.

Beberapa detik sebelumnya kita menyaksikan penderitaan manusia, beberapa detik kemudian perasaan kita telah dipanggil oleh sesuatu yang lain. Barangkali bukan hati manusia yang menjadi lebih dingin, melainkan perhatian kita yang semakin terpecah.

Ketika Penderitaan Menjadi Konten

Ada sesuatu yang lebih rumit daripada sekadar tombol suka. Kesedihan manusia kini juga dapat berubah menjadi tontonan.

Seseorang yang sedang mengalami musibah dapat direkam, diunggah, dibagikan, diberi musik, ditambahkan tulisan, kemudian disaksikan jutaan orang. Kadang dokumentasi seperti itu benar-benar menghasilkan pertolongan nyata dan mempertemukan orang yang membutuhkan dengan mereka yang ingin membantu.

Tetapi ada garis tipis yang tetap perlu ditanyakan. Kapan kita sedang membantu manusia, dan kapan kita hanya sedang menikmati cerita tentang penderitaannya?

Seorang manusia yang sedang menangis tetap mempunyai martabat, sebagaimana kemiskinan bukan dekorasi dan duka bukan properti. Orang yang membutuhkan pertolongan tidak kehilangan hak atas harga dirinya hanya karena kisahnya dapat menghasilkan perhatian.

Mungkin di sinilah kasih kepada sesama memperoleh ujian baru pada zaman kita. Bukan hanya apakah kita bersedia membantu, tetapi apakah kita mampu membantu tanpa mengambil martabat orang yang sedang dibantu.

Pela-Gandong dan Ingatan tentang Saudara

Maluku memberi salah satu contoh menarik tentang bagaimana kebudayaan dapat menciptakan hubungan sosial yang melampaui batas tertentu. Pela dan Gandong mempunyai sejarah serta bentuk yang kompleks sehingga keduanya tidak semestinya direduksi hanya menjadi slogan persaudaraan.

Namun penelitian mengenai Pela-Gandong menunjukkan bahwa ikatan tersebut dapat menjadi salah satu fondasi kohesi sosial antarkomunitas. Dalam konteks tertentu, hubungan itu juga menemukan bentuknya dalam kehidupan bersama masyarakat Muslim dan Kristen.

Ada pelajaran yang lebih luas di sana. Persaudaraan tidak selalu harus dimulai dari kesamaan.

Manusia dapat mempunyai agama, adat, sejarah, dan cara hidup yang berbeda. Namun kebudayaan dapat menyediakan bahasa sosial yang mengingatkan bahwa perbedaan tidak dengan sendirinya menghapus tanggung jawab untuk menjaga hubungan dengan manusia lain.

Di tengah dunia yang semakin mudah membagi manusia ke dalam kelompok-kelompok identitas, ingatan semacam itu menjadi penting. Bukan untuk menghapus perbedaan, melainkan untuk menjaga agar perbedaan tidak membuat manusia berhenti melihat manusia.

Dalihan Na Tolu dan Hubungan yang Harus Dijaga

Dalam masyarakat Batak Toba, Dalihan Na Tolu memberikan struktur hubungan yang berbeda lagi. Sejumlah kajian menunjukkan pentingnya menjaga relasi melalui penghormatan, perhatian, kehati-hatian, solidaritas, serta kedudukan dalam hubungan kekerabatan.

Kajian terhadap masyarakat Batak Toba di perantauan juga memperlihatkan bahwa nilai Dalihan Na Tolu masih dapat berperan dalam membangun solidaritas. Jarak dari tanah asal tidak otomatis membuat seluruh ikatan sosial yang dibawa seseorang menghilang.

Sekali lagi, kita tidak sedang menerjemahkan Dalihan Na Tolu menjadi welas asih. Melakukan itu justru akan menghilangkan kekayaan konteks budaya yang dimilikinya.

Kita sedang melihat sesuatu yang lebih mendasar: bagaimana masyarakat membangun mekanisme kebudayaan agar manusia mengetahui bahwa dirinya tidak hidup sendirian. Ada hubungan yang harus dijaga, manusia yang harus dihormati, serta konsekuensi sosial dari tindakan yang kita lakukan.

Silih Asih Tidak Berjalan Sendiri

Kearifan Sunda memberikan sudut pandang lain yang menarik karena *silih asih* tidak berdiri sendirian. Ia hadir bersama *silih asah* dan *silih asuh*.

Kasih ditemani proses saling mengembangkan dan saling membimbing. Dengan demikian, hubungan antarmanusia tidak berhenti pada perasaan hangat terhadap manusia lain.

Mengasihi seseorang juga dapat berarti membantu ia tumbuh, sementara mengasihi komunitas dapat berarti berani mengingatkan ketika sesuatu mulai merusaknya. Mengasihi generasi berikutnya bahkan dapat berarti memberikan pengetahuan yang membuat mereka kelak mampu berdiri tanpa terus bergantung kepada kita.

Kasih tidak selalu berbentuk kelembutan. Kadang ia mengambil bentuk tanggung jawab.

Di sinilah nilai kebudayaan memperoleh kehidupan yang lebih luas daripada slogan. Ia tidak berhenti pada kata yang indah, melainkan diuji melalui apa yang dilakukan manusia kepada manusia lainnya.

Apakah Kita Benar-Benar Semakin Individualistis?

Mudah untuk sampai pada kesimpulan bahwa manusia sekarang semakin individualistis. Tetapi kesimpulan seperti itu perlu dijaga agar tidak berubah menjadi penghakiman terhadap generasi atau kehidupan modern secara keseluruhan.

Bentuk solidaritas juga berubah. Anak muda hari ini membangun komunitas berdasarkan pendidikan, lingkungan, kesehatan, profesi, penyelamatan hewan, bantuan bencana, serta berbagai kepedulian lain yang dapat melampaui batas kampung dan daerah.

Orang yang tidak mengenal korban bencana dapat mengirim bantuan, sementara seseorang dapat membantu biaya pendidikan anak yang belum pernah ditemuinya. Relawan dari kota berbeda dapat berkumpul karena membaca satu panggilan melalui internet.

Kasih tidak selalu hilang. Kadang-kadang ia hanya berpindah ruang.

Tetapi perpindahan itu membawa sebuah pertanyaan yang menarik. Ketika solidaritas kita dapat menjangkau manusia ribuan kilometer jauhnya, apakah manusia yang tinggal di sebelah rumah masih terlihat?

Tetangga yang Tidak Kita Kenal

Mungkin inilah salah satu paradoks kehidupan modern yang paling sederhana. Kita dapat mengetahui kabar orang terkenal di negara lain tetapi tidak mengetahui nama orang yang tinggal beberapa meter dari rumah.

Kita mengetahui apa yang dimakan seseorang yang kita ikuti di internet, tempat ia berlibur, dan pendapatnya mengenai berbagai persoalan. Namun kita mungkin tidak tahu bahwa orang tua di ujung jalan sudah beberapa hari sakit.

Kita mungkin tidak mengetahui keluarga di belakang rumah sedang mengalami kesulitan atau seorang anak di sekitar kita berangkat sekolah tanpa sarapan. Bukan karena kita sengaja tidak peduli, tetapi karena kita memang tidak mengetahuinya.

Dan untuk mengetahui kehidupan manusia lain, kita membutuhkan sesuatu yang semakin mahal hari ini. Kita membutuhkan pertemuan.

Kasih Memerlukan Waktu

Ada harga yang jarang dibicarakan ketika kita berbicara mengenai kepedulian. Harga itu bernama waktu.

Mendengarkan seseorang membutuhkan waktu, sebagaimana menemani orang sakit, mengunjungi keluarga berduka, atau membantu tetangga menyelesaikan sebuah pekerjaan. Bahkan untuk benar-benar bertanya “apa kabar?” dan menunggu jawaban yang jujur, manusia membutuhkan waktu.

Sedangkan kehidupan modern dibangun dengan obsesi terhadap kecepatan. Semakin cepat perjalanan, makanan, transaksi, komunikasi, dan informasi, semakin baik kehidupan dianggap berjalan.

Tetapi manusia tidak selalu dapat dipercepat. Kesedihan, kesepian, kehilangan, dan luka mempunyai waktunya sendiri.

Kasih sering meminta kita berhenti ketika seluruh dunia meminta kita terus berjalan. Mungkin karena itulah ia terasa semakin mahal: bukan karena manusia tidak memilikinya lagi, tetapi karena memberikan perhatian penuh berarti menyerahkan sesuatu yang kini selalu terasa kurang.

Bukan Kembali ke Masa Lalu

Tulisan ini bukan ajakan mengembalikan kehidupan persis seperti puluhan atau ratusan tahun lalu. Kita tidak dapat memutar urbanisasi, membuang teknologi, lalu berharap seluruh persoalan kehidupan sosial selesai.

Kita juga tidak perlu menganggap seluruh nilai lama harus dipertahankan hanya karena berasal dari leluhur. Kebudayaan selalu bergerak, memilih, menyesuaikan, bahkan meninggalkan bagian-bagian tertentu dari dirinya.

Yang perlu ditanyakan adalah nilai apa yang masih berguna untuk menjaga kemanusiaan di tengah perubahan tersebut. Bentuknya boleh berubah selama manusia tidak kehilangan inti yang membuat nilai itu dahulu lahir.

Gotong royong mungkin tidak lagi selalu berarti seluruh kampung datang membawa cangkul. Kepedulian juga tidak harus selalu berbentuk semangkuk makanan yang diantar melintasi pagar.

Ia dapat berupa transfer bantuan, komunitas digital, waktu untuk mendengarkan, menjaga privasi seseorang yang sedang kesulitan, atau sekadar hadir ketika manusia lain membutuhkan kehadiran. Bentuknya dapat berubah, tetapi jangan sampai perubahan bentuk membuat kita kehilangan kesadaran bahwa hidup manusia lain mempunyai arti.

Setelah Budi Pekerti, Kita Menemukan Manusia

Dalam pembahasan sebelumnya, EMMANUS melihat budi pekerti sebagai warisan yang tidak dapat disimpan di museum. Ia hanya dapat bertahan ketika dijalankan dan diwariskan melalui manusia.

Pembicaraan mengenai kasih kepada sesama membawa kita satu langkah lebih dalam. Sebab seseorang dapat mengetahui seluruh tata krama tetapi tidak mempunyai kepedulian terhadap manusia lain.

Ia dapat berbicara sangat sopan tetapi tidak bergerak ketika melihat seseorang kesulitan. Ia dapat menguasai aturan adat tetapi memperlakukan manusia yang dianggap lebih rendah dengan buruk.

Karena itu kebudayaan tidak cukup hanya mengatur bagaimana seseorang berdiri di hadapan manusia lain. Kebudayaan juga menyimpan pertanyaan mengenai mengapa manusia lain itu patut dihargai.

Budi pekerti dan kasih kepada sesama bertemu di sana, tetapi keduanya tidak perlu dilebur menjadi pembahasan yang sama. Artikel ini sengaja berhenti pada satu ruang: kemampuan manusia melihat kehidupan manusia lain sebagai sesuatu yang masih mempunyai hubungan dengan dirinya.

Mungkin Kita Tidak Kehilangan Kasih

Barangkali kasih belum pergi sejauh yang kita takutkan. Ia masih muncul ketika bencana datang dan ribuan tangan mengirim bantuan, ketika orang-orang mengumpulkan uang untuk seseorang yang tidak mereka kenal, atau ketika seorang tetangga diam-diam meninggalkan makanan di depan rumah keluarga yang sedang kesulitan.

Ia hidup dalam komunitas yang menjaga lingkungan, relawan yang mengajar anak, keluarga yang merawat orang tua, manusia yang menyelamatkan hewan terlantar, serta orang-orang yang memberikan waktu tanpa merasa perlu memperlihatkannya. Tidak seluruh kebaikan harus menjadi berita agar benar-benar ada.

Mungkin masalahnya bukan manusia telah berhenti mengasihi. Masalahnya bisa jadi karena kita semakin jarang benar-benar melihat satu sama lain.

Kita berjalan cepat, sibuk, dan membawa terlalu banyak manusia di dalam layar. Di tengah keramaian itu, manusia yang berada dalam jangkauan tangan justru terkadang menjadi yang paling mudah terlewat.

Ketika Hidup Orang Lain Menjadi Urusan Kita

Nusantara mungkin tidak pernah mempunyai satu kata yang dapat menampung seluruh cara masyarakatnya memandang hubungan antarmanusia. Dan mungkin memang tidak perlu.

Ada *welas asih*, *silih asih*, *sipakatau*, Pela-Gandong, Dalihan Na Tolu, serta begitu banyak bahasa, falsafah, adat, dan kebiasaan lain yang tidak mungkin selesai disebutkan dalam satu tulisan. Mereka tidak identik, karena masing-masing lahir dari masyarakat, sejarah, dan sistem nilai yang berbeda.

Namun di antara perbedaan itu kita dapat menemukan sebuah ingatan. Bahwa manusia tidak pernah benar-benar hidup sendirian.

Dahulu ada sesuatu yang membuat sebuah kampung mengetahui ketika satu rumah sedang berduka. Ada sesuatu yang membuat makanan yang sedikit masih dapat dibagi dan membuat seseorang berhenti berjalan ketika melihat manusia lain membutuhkan tangan.

Hari ini mungkin kita tidak membutuhkan nama yang sama untuk semua itu. Kita juga tidak harus kembali menjadi masyarakat seperti seratus tahun lalu.

Tetapi di tengah dunia yang semakin cepat, mungkin sesekali kita perlu berhenti dan menoleh ke kanan serta kiri. Memandang manusia bukan sebagai akun, angka, pekerjaan, suku, agama, status sosial, atau sesuatu yang berguna bagi kita, melainkan sebagai manusia.

Sebab pada akhirnya pertanyaan terbesar tentang welas asih bukan bagaimana leluhur kita menyebutnya. Pertanyaannya adalah apakah hidup orang lain masih terasa mempunyai hubungan dengan hidup kita.

Dan jika suatu hari jawabannya benar-benar menjadi tidak, mungkin yang sedang hilang bukan sekadar sebuah nilai kebudayaan. Mungkin kita sedang kehilangan sebagian dari cara kita menjadi manusia.

CATATAN REDAKSI

Artikel ini menggunakan istilah welas asih sebagai pintu masuk untuk membicarakan kasih, kepedulian, penghormatan, solidaritas, dan hubungan antarmanusia dalam konteks kebudayaan Nusantara. Istilah seperti silih asih, sipakatau, Pela-Gandong, dan Dalihan Na Tolu tidak diposisikan sebagai sinonim atau tradisi yang identik, melainkan dibahas sesuai konteks masyarakat dan fungsi sosial-budayanya masing-masing.

Refleksi mengenai perubahan kehidupan sosial tidak dimaksudkan untuk menyatakan bahwa masyarakat masa lalu lebih baik secara keseluruhan atau generasi sekarang telah kehilangan kepedulian. Bentuk solidaritas dan hubungan sosial terus berubah mengikuti kehidupan masyarakat; EMMANUS menempatkan nilai-nilai tersebut sebagai bahan untuk memahami perubahan tanpa menyeragamkan keragaman kebudayaan Nusantara.

 

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

ADVERTISEMENT