Ada masa ketika memasuki bulan Agustus saja sudah cukup membuat anak-anak merasa ada sesuatu yang berbeda. Bendera mulai muncul di depan rumah, bambu dibersihkan dan dicat, lapangan kampung dirapikan, sementara percakapan tentang lomba mulai berpindah dari satu teras ke teras lainnya.
Bagi sebagian orang yang tumbuh pada dekade 1980-an dan 1990-an, 17 Agustus bukan sekadar tanggal merah dalam kalender. Ada yang menunggu balap karung, panjat pinang, makan kerupuk, sepak bola kampung, panggung malam, karnaval, atau sekadar kesempatan berkumpul sampai hari yang ditunggu-tunggu itu terkadang terbawa ke dalam mimpi.
Kenangan semacam itu tentu tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa generasi dahulu lebih nasionalis daripada generasi sekarang. Masa lalu mudah terlihat lebih hangat ketika dipandang melalui jendela nostalgia, sementara kehidupan pada masa itu juga mempunyai persoalan sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaannya sendiri.
Namun ada sesuatu yang pantas direnungkan dari kenangan tersebut. Kemerdekaan tidak hanya diperingati, tetapi pernah dialami melalui sebuah peristiwa sosial yang membuat banyak orang merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Ketika Agustus Datang dari Ujung Gang
Perayaan kemerdekaan dahulu tidak selalu membutuhkan panggung besar. Sebuah gang sempit, beberapa batang bambu, cat merah-putih, pengeras suara seadanya dan halaman kosong sudah cukup menjadi ruang perjumpaan.
Persiapannya bahkan sering lebih panjang daripada perlombaannya. Orang dewasa berkumpul membicarakan biaya, pemuda memasang umbul-umbul, ibu-ibu menyiapkan konsumsi, sementara anak-anak sibuk menebak lomba apa yang akan diadakan.
Di sanalah sesuatu bekerja tanpa selalu disebut nasionalisme. Seorang anak mungkin belum memahami sejarah pembentukan negara secara utuh, tetapi ia melihat merah putih dipasang bersama-sama dan merasakan bahwa hari kemerdekaan mempunyai tempat khusus dalam kehidupan lingkungannya.
Nasionalisme hadir melalui pengalaman.
Ia tidak hanya berada dalam buku pelajaran, pidato, atau upacara. Ia mempunyai suara, bau tanah lapangan, cat yang menempel di tangan, tawa tetangga, dan rasa kecewa ketika kalah lomba yang beberapa menit kemudian sudah berubah menjadi permainan lain.
Kita Tidak Bisa Mengukur Nasionalisme dari Kenangan
Di titik ini kita harus berhati-hati. Kerinduan terhadap Agustus masa lalu tidak membuktikan bahwa generasi 1980–1990-an mempunyai kadar cinta tanah air yang lebih tinggi.
Penelitian tentang nasionalisme generasi muda sendiri memperlihatkan persoalan yang kompleks. Kajian mengenai kesadaran bela negara di era digital, misalnya, mencatat kekhawatiran terhadap berkurangnya perhatian pada simbol kebangsaan dan apresiasi terhadap kebudayaan daerah, tetapi juga menghubungkannya dengan pendidikan dan pembinaan kesadaran kebangsaan yang perlu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.
Kajian lain mengenai generasi muda Indonesia juga pernah menemukan persoalan pemahaman kebangsaan dalam konteks polarisasi politik dan media sosial. Temuan semacam itu penting sebagai peringatan, tetapi konteks penelitian tidak dapat begitu saja diubah menjadi vonis terhadap seluruh generasi muda Indonesia.
Sebab generasi yang sama juga menggalang bantuan melalui telepon genggam ketika bencana terjadi. Mereka membicarakan Indonesia melalui film, musik, meme, video pendek, olahraga, kuliner, fesyen, perjalanan, hingga konten kebudayaan yang dapat menembus batas daerah.
Mungkin persoalannya bukan sesederhana nasionalisme telah hilang.
Mungkin cara nasionalisme itu dialami sedang berubah.
Dahulu Kita Terlibat, Sekarang Kita Banyak Melihat
Ada perbedaan halus antara melihat sebuah perayaan dan menjadi bagian dari proses yang membuat perayaan itu terjadi. Seseorang dapat menyaksikan puluhan karnaval melalui layar tanpa pernah sekali pun mengangkat bambu untuk membuat gapura di depan rumahnya.
Perubahan ini bukan sepenuhnya kesalahan teknologi. Mobilitas masyarakat, perubahan pola kerja, urbanisasi, bentuk permukiman, kesibukan keluarga, perubahan ekonomi, dan semakin individualnya sebagian ruang kehidupan ikut mengubah cara manusia berhubungan dengan lingkungan terdekatnya.
Tetapi teknologi memberikan pengalaman baru yang belum dimiliki generasi sebelumnya. Hari ini seseorang dapat melihat perayaan kemerdekaan dari Papua, Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Maluku hanya dengan menggerakkan satu jari.
Pengetahuan kita tentang keragaman Indonesia bisa menjadi jauh lebih luas. Ironisnya, pengalaman langsung bersama lingkungan terdekat belum tentu ikut menjadi lebih dalam.
Kita semakin banyak melihat Indonesia.
Pertanyaannya: apakah kita semakin banyak mengalaminya?
Budaya Semakin Sering Tampil
Ada pemandangan lain yang menarik dalam beberapa tahun terakhir. Pakaian tradisional semakin sering muncul dalam festival, karnaval, acara sekolah, peringatan hari nasional, pertunjukan, konten digital, hingga berbagai perhelatan publik.
Secara visual, ini merupakan perkembangan yang menggembirakan. Generasi muda mempunyai kesempatan melihat ragam busana, tarian, musik, bahasa, kuliner dan ekspresi kebudayaan yang mungkin dahulu sulit ditemukan di luar daerah asalnya.
Media digital bahkan dapat membuat sebuah kesenian dari kampung kecil dikenal dalam waktu singkat. Anak muda dapat menemukan kembali lagu, cerita rakyat atau tradisi daerah melalui medium yang sama dengan yang mereka gunakan untuk menikmati budaya global.
Tetapi kebudayaan mempunyai lapisan yang lebih dalam daripada apa yang terlihat mata.
Pakaian tradisional adalah bagian kebudayaan. Namun kebudayaan tidak selesai ketika pakaian itu dikenakan.
Tarian adalah bagian kebudayaan. Tetapi kebudayaan tidak selesai ketika musik berhenti.
Ketika Bentuk Bertahan, tetapi Ekosistemnya Berubah
Penelitian mengenai perubahan Kampung Prawirotaman di Yogyakarta memberi contoh menarik. Kawasan yang dahulu dikenal melalui aktivitas batik mengalami perubahan ekonomi hingga berkembang menjadi kawasan penginapan dan pariwisata.
Perubahan tersebut tentu membuka aktivitas ekonomi baru. Namun dokumentasi Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta juga mencatat hilangnya batik sebagai penanda kampung, perubahan bangunan, serta berkurangnya tradisi berkumpul, gotong royong dan ekspresi kesenian warga yang dahulu hidup di dalamnya.
Contoh itu memperlihatkan bahwa kebudayaan tidak hanya dapat berubah ketika sebuah benda hilang. Ia juga dapat berubah ketika hubungan sosial yang membuat benda, keterampilan, dan tradisi itu mempunyai tempat dalam kehidupan ikut berubah.
Sebuah kawasan masih dapat terlihat “tradisional” melalui ornamen. Sebuah acara masih dapat terlihat “budaya” melalui pakaian dan pertunjukan.
Namun pertanyaan yang lebih sulit baru dimulai setelah kamera dimatikan.
Siapa yang masih membuatnya? Siapa yang mengajarkannya, memahami maknanya, menjalankan nilai sosial di belakangnya, dan kepada siapa pengetahuan itu akan diwariskan?
Barangkali Inilah yang Kita Sebut Ruh
Kata “ruh” tentu bukan ukuran ilmiah kebudayaan. Dalam tulisan ini, ia digunakan sebagai metafora untuk menyebut makna, pengetahuan, hubungan sosial, keterlibatan dan nilai yang membuat sebuah ekspresi budaya menjadi lebih daripada pertunjukan.
Gotong royong, misalnya, bukan kostum. Ia hanya hidup ketika manusia benar-benar bekerja bersama.
Persaudaraan tidak dapat dipertunjukkan selama lima belas menit kemudian dianggap selesai. Ia membutuhkan kehidupan sehari-hari yang membuat seseorang bersedia memberikan waktu, tenaga, perhatian, bahkan sebagian kenyamanannya untuk manusia lain.
Nasionalisme juga demikian.
Mengibarkan bendera merupakan simbol penting. Tetapi hubungan seseorang dengan bangsanya tidak mungkin hanya diukur dari seberapa banyak merah putih terlihat dalam satu bulan.
Jika simbol adalah tubuh, makna adalah sesuatu yang membuat tubuh itu bergerak.
Mengapa Ruh Itu Terasa Menipis?
Tidak ada satu penyebab yang cukup untuk menjelaskannya. Perubahan kebudayaan hampir selalu lahir dari banyak arus yang bergerak bersamaan.
Globalisasi memperluas pilihan kebudayaan. Generasi hari ini dapat tumbuh bersama musik Korea, film Amerika, animasi Jepang, sepak bola Eropa, kuliner Thailand dan tren dari berbagai belahan dunia tanpa perlu meninggalkan kamar.
Hal itu tidak otomatis membuat seseorang kehilangan keindonesiaannya. Kebudayaan sejak dahulu bertemu, menyerap, menolak, menyesuaikan dan melahirkan bentuk baru dari perjumpaan dengan kebudayaan lain.
Masalah muncul ketika kebudayaan sendiri tidak lagi diberikan ruang untuk dipahami sedalam budaya yang datang melalui layar. Kita mungkin mengenakan pakaian adat setahun sekali tanpa mengetahui masyarakat yang melahirkannya, nilai yang mengelilinginya, atau sejarah yang membuat bentuknya seperti sekarang.
Yang terjadi akhirnya bukan kekurangan simbol.
Kita justru dapat mengalami kelebihan simbol dan kekurangan pemaknaan.
Budaya yang Berubah Menjadi Konten
Zaman digital mempunyai logikanya sendiri. Sesuatu yang indah, unik, mengejutkan dan mudah dipahami secara visual mempunyai peluang lebih besar untuk mendapatkan perhatian.
Kebudayaan sangat mudah masuk ke dalam logika tersebut. Kostum yang megah, tarian spektakuler, ritual yang tidak biasa, rumah tradisional yang fotogenik dan karnaval besar mempunyai daya tarik visual yang tinggi.
Tidak ada yang salah dengan mendokumentasikannya. Dokumentasi digital bahkan merupakan salah satu kesempatan terbesar yang pernah kita miliki untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia kepada dunia.
Namun algoritma biasanya tidak mempunyai cukup waktu untuk menjelaskan mengapa sesuatu dilakukan. Ia lebih mudah memperlihatkan bentuk daripada sejarah, lebih mudah menampilkan kostum daripada filosofi, dan lebih cepat menyebarkan adegan daripada menjelaskan masyarakat yang berada di belakangnya.
Di sinilah pelestarian menghadapi tantangan baru.
Budaya dapat menjadi sangat terkenal sekaligus sangat sedikit dipahami.
Generasi Muda Bukan Terdakwa
Mudah sekali berhenti pada kalimat: anak muda sekarang tidak peduli budaya. Kalimat semacam itu mungkin memuaskan nostalgia, tetapi tidak cukup menjelaskan kenyataan.
Penelitian BRIN mengenai media sosial dan identitas nasional Gen Z justru melihat ruang digital sebagai medium yang dapat digunakan untuk memperkuat identitas nasional. Penelitian lain mengenai internalisasi Pancasila menemukan budaya populer, film, animasi, musik, vlog, meme, video pendek, komunitas pemuda dan kegiatan kemanusiaan dapat menjadi jalan yang relevan untuk membawa nilai kebangsaan kepada Milenial dan Gen Z.
Artinya, generasi muda tidak kehilangan kemampuan mencintai Indonesia hanya karena cara mereka mengekspresikannya berbeda.
Mereka mungkin tidak berkumpul di pos ronda seperti generasi sebelumnya. Tetapi mereka dapat membuat dokumentasi bahasa daerah, mempopulerkan kembali kain tradisional, memperkenalkan makanan kampung kepada jutaan orang, atau membuat sebuah cerita rakyat dikenal melalui video berdurasi satu menit.
Yang harus ditanyakan bukan mengapa mereka tidak menjadi seperti generasi sebelumnya.
Pertanyaannya adalah apakah kita memberikan cukup pengetahuan agar kreativitas mereka mempunyai akar.
Nasionalisme Tidak Bisa Hanya Diajarkan
Ada sesuatu yang berbeda antara mengetahui dan mengalami. Anak dapat menghafal tanggal 17 Agustus 1945, nama proklamator, teks Pancasila dan lagu nasional, tetapi pengetahuan tersebut belum otomatis menjadi hubungan emosional dengan bangsanya.
Hubungan itu sering tumbuh melalui pengalaman. Melihat tetangga bekerja bersama, mengenal cerita kampungnya, mendengar bahasa neneknya, mengunjungi situs sejarah, berbicara dengan pelaku budaya, atau memahami mengapa sebuah tradisi dijalankan dapat membuat Indonesia berubah dari konsep menjadi pengalaman.
Mungkin inilah salah satu hal yang dahulu terjadi secara tidak sengaja dalam perayaan kampung. Anak-anak datang karena ingin berlomba, tetapi tanpa sadar mereka sedang memasuki ruang sosial bersama banyak generasi.
Mereka melihat orang tua bekerja. Pemuda mempersiapkan acara, ibu-ibu memasak, tetangga yang biasanya jarang berbicara duduk bersama, sementara bendera yang sama berkibar di sepanjang jalan.
Tidak ada mata pelajaran bernama nasionalisme di lapangan itu.
Tetapi sesuatu sedang diajarkan.
Ketika Kampung Juga Berubah
Kita tidak mungkin meminta semua keadaan kembali seperti tahun 1980-an atau 1990-an. Indonesia telah berubah dan akan terus berubah.
Banyak orang tidak lagi tinggal seumur hidup di kampung tempat ia dilahirkan. Perumahan tumbuh, apartemen bertambah, pekerjaan membawa manusia berpindah kota, sementara hubungan bertetangga memperoleh bentuk yang berbeda.
Ruang tempat kebersamaan dahulu tumbuh ikut berubah. Lapangan kosong menjadi bangunan, halaman semakin sempit, sementara waktu yang dahulu digunakan berkumpul harus berbagi dengan perjalanan panjang dan pekerjaan.
Karena itu berkurangnya pengalaman kolektif tidak adil jika hanya dibebankan kepada anak muda. Struktur kehidupan yang kita bangun bersama juga menentukan apakah manusia masih mempunyai ruang untuk saling bertemu.
Sulit meminta generasi muda mencintai kehidupan kampung apabila kampung hanya tersisa sebagai alamat.
Kita Mengimpor Banyak Hal, tetapi Tidak Harus Kehilangan Diri
Keterbukaan terhadap dunia bukan musuh nasionalisme. Indonesia sendiri lahir dan berkembang dari perjalanan panjang perjumpaan berbagai manusia, agama, perdagangan, bahasa dan kebudayaan.
Persoalannya bukan apakah anak Indonesia menonton film asing atau mendengarkan musik dari negara lain. Nasionalisme yang harus dilindungi dari sebuah lagu mungkin memang terlalu rapuh sejak awal.
Persoalan yang lebih penting adalah apakah di tengah seluruh pilihan global itu, kebudayaan sendiri masih mempunyai kemampuan berbicara kepada generasi sekarang.
Jika jawabannya tidak, kita tidak cukup hanya menyalahkan mereka.
Mungkin cara kita mengenalkan budaya terlalu sering berhenti pada kewajiban mengenakan pakaian. Mungkin sejarah terlalu sering berubah menjadi hafalan, sementara tradisi diperkenalkan melalui nama tanpa memberi kesempatan kepada anak memahami manusia yang menjalankannya.
Kebudayaan harus mempunyai ruang untuk hidup, bukan sekadar jadwal untuk tampil.
Dari Peserta Menjadi Penonton
Barangkali salah satu perubahan terbesar terletak di sini. Kehidupan modern memberi kita semakin banyak kesempatan menjadi penonton.
Kita menonton pertandingan, perdebatan, penderitaan, perayaan, tarian, upacara, perjalanan dan kehidupan orang lain. Bahkan nasionalisme dapat dikonsumsi sebagai tontonan melalui video heroik, lagu, pertandingan olahraga atau konten emosional.
Perasaan yang lahir dari sana tidak selalu palsu. Seseorang dapat sungguh-sungguh menangis ketika Indonesia Raya berkumandang setelah atlet Indonesia menang.
Tetapi sebuah bangsa tidak dapat terus-menerus dibangun hanya melalui pengalaman menonton.
Pada suatu titik, manusia perlu merasa ikut memiliki.
Dan rasa memiliki biasanya meminta keterlibatan.
Kemeriahan Tidak Sama dengan Kedalaman
Festival budaya dapat menghadirkan ribuan orang. Karnaval dapat memenuhi jalan, pakaian tradisional dapat tampil luar biasa, sementara media sosial membuatnya dilihat jutaan manusia.
Semua itu memiliki nilai penting. Tidak ada alasan merendahkan bentuk pelestarian baru hanya karena berbeda dari masa lalu.
Namun jumlah penonton tidak otomatis menunjukkan kedalaman pemahaman. Banyaknya kostum juga tidak otomatis berarti pengetahuan mengenai budaya tersebut ikut bertambah.
Karena itu tantangan pelestarian ke depan mungkin bukan lagi sekadar membuat budaya terlihat.
Budaya Indonesia sudah semakin terlihat.
Tantangan berikutnya adalah membuatnya kembali dirasakan, dipahami dan dijalani.
17 Agustus Tidak Harus Kembali Seperti Dahulu
Tidak perlu menghidupkan masa lalu secara utuh. Anak-anak hari ini berhak mempunyai Agustus mereka sendiri.
Mungkin perlombaannya berubah. Mungkin panggung kampung bertemu layar digital, permainan tradisional berdampingan dengan kompetisi gim, dan dokumentasi dibuat untuk media sosial.
Tidak ada masalah selama sesuatu yang lebih dalam tetap berada di sana.
Ada kerja bersama. Ada perjumpaan antargenerasi, cerita tentang kemerdekaan, pengenalan lingkungan, ruang bagi kesenian lokal, dan kesempatan bagi seorang anak untuk merasakan bahwa orang-orang yang berdiri di sekelilingnya adalah bagian dari masyarakat yang sama.
Nasionalisme tidak harus berwajah lama untuk mempunyai akar.
Ia hanya perlu mempunyai pengalaman yang membuat manusia merasa terhubung.
Yang Kita Wariskan Bukan Sekadar Merah Putih
Suatu hari generasi yang hari ini kita sebut anak muda akan menjadi orang tua. Mereka pun mungkin memandang generasi setelahnya dan mengatakan bahwa Agustus pada zaman mereka terasa berbeda.
Begitulah ingatan bekerja. Setiap generasi mempunyai masa lalu yang terasa lebih dekat dengan hati.
Karena itu tugas kita bukan memaksa anak-anak hari ini merindukan sesuatu yang tidak pernah mereka alami. Mereka tidak berkewajiban mempunyai kenangan yang sama dengan generasi 1980-an atau 1990-an.
Yang dapat kita lakukan adalah menciptakan pengalaman yang kelak layak mereka rindukan.
Bukan hanya perayaan yang megah, tetapi hari ketika mereka pernah bekerja bersama tetangga. Bukan hanya pakaian tradisional yang bagus untuk difoto, tetapi saat mereka mengetahui siapa yang membuatnya, dari mana ia berasal, dan mengapa masyarakat mempertahankannya.
Bukan hanya hafalan tentang Indonesia.
Tetapi pengalaman menjadi Indonesia.
Ketika Bendera Itu Kelak Kembali Dipasang
Agustus akan selalu datang. Merah putih akan kembali muncul di jalan-jalan, kantor, sekolah, rumah, pusat perbelanjaan dan layar telepon.
Karnaval akan berlangsung. Pakaian tradisional akan dikenakan, lagu kebangsaan diputar, panggung didirikan, kamera dinyalakan dan jutaan gambar akan tersimpan jauh lebih lama daripada foto-foto buram masa kecil generasi sebelumnya.
Mungkin kemeriahannya bahkan akan semakin besar.
Tetapi ukuran keberhasilan kita bukan hanya berapa banyak bendera yang berhasil dikibarkan. Bukan pula seberapa megah kostum budaya yang dapat diperagakan.
Pertanyaan yang lebih penting datang setelah semuanya selesai.
Ketika bendera diturunkan, panggung dibongkar, pakaian adat kembali ke lemari dan unggahan terakhir berhenti mendapatkan perhatian, apakah masih ada sesuatu yang tertinggal di dalam diri manusia yang mengalaminya?
Rasa memiliki.
Rasa ingin menjaga.
Keinginan mengenal sejarahnya.
Kesediaan hidup bersama manusia Indonesia lain yang berbeda suku, bahasa, agama dan kebudayaan.
Dan mungkin sedikit kesadaran bahwa Indonesia bukan sesuatu yang hanya hadir setiap bulan Agustus.
Generasi 1980-an dan 1990-an boleh merindukan perlombaan, lapangan kampung, suara pengeras yang pecah, bendera plastik yang bergerak tertiup angin, atau malam sebelum 17 Agustus yang terasa begitu panjang.
Namun nostalgia itu bukan warisan.
Yang perlu kita wariskan adalah alasan mengapa dahulu sebuah bendera, sebuah lapangan kecil, dan perlombaan sederhana mampu membuat begitu banyak manusia merasa sedang menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Sebab kebudayaan tidak akan kehilangan ruhnya hanya karena zaman berubah.
Ia kehilangan ruh ketika kita masih mampu mempertunjukkan bentuknya, tetapi tidak lagi mengetahui mengapa kita ingin mewariskannya.
CATATAN REDAKSI
Artikel ini menggunakan kenangan terhadap perayaan 17 Agustus pada dekade 1980-an dan 1990-an sebagai pintu masuk refleksi mengenai perubahan pengalaman kebangsaan dan kebudayaan, bukan sebagai dasar untuk menyatakan generasi masa lalu lebih nasionalis daripada generasi sekarang. Pengalaman setiap daerah, komunitas dan generasi berbeda; sejumlah penelitian yang digunakan juga memiliki konteks, populasi dan batas penelitian masing-masing sehingga tidak digeneralisasi sebagai gambaran seluruh generasi muda Indonesia.
Istilah “ruh budaya” dalam tulisan ini merupakan metafora editorial untuk membicarakan makna, pengetahuan, keterlibatan sosial dan nilai yang menyertai ekspresi kebudayaan, bukan ukuran ilmiah tentang hidup atau hilangnya suatu budaya. EMMANUS memandang perubahan teknologi, globalisasi dan budaya populer tidak semata sebagai ancaman: medium yang sama juga dapat menjadi ruang baru bagi generasi muda untuk membangun identitas nasional, mendokumentasikan kebudayaan dan menciptakan bentuk pelestarian yang sesuai dengan zamannya.






