Cerita Rakyat

Legenda Batu Bagga, Kisah Kutukan Anak Durhaka

Di Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, terdapat sebuah batu yang sarat dengan nilai-nilai budaya dan sejarah masyarakat setempat. Batu ini dikenal sebagai Batu Bagga, diambil dari istilah lokal untuk perahu layar. Legenda yang melingkupi batu ini telah menjadi bagian penting dari cerita rakyat Sulawesi Tengah, dituturkan dari generasi ke generasi. Kisah yang menggambarkan hubungan antara keluarga, […]

Oleh Achmad Aristyan

Legenda Batu Bagga, Kisah Kutukan Anak Durhaka
Ilustrasi cerita rakyat Legenda Batu Bagga dari Sulawesi Tengah. Tangkapan Layar YouTube Dongeng Kita
Diterbitkan

Di Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, terdapat sebuah batu yang sarat dengan nilai-nilai budaya dan sejarah masyarakat setempat. Batu ini dikenal sebagai Batu Bagga, diambil dari istilah lokal untuk perahu layar.

Legenda yang melingkupi batu ini telah menjadi bagian penting dari cerita rakyat Sulawesi Tengah, dituturkan dari generasi ke generasi. Kisah yang menggambarkan hubungan antara keluarga, kesetiaan, dan akibat dari pengabaian.

Cerita ini berfokus pada seorang duda bernama Intobu dan putranya Impalak, yang hidup di sebuah desa pesisir. Mereka hidup sangat sederhana dan bergantung pada hasil tangkapan ikan di laut.

Impalak, yang merasa terjebak dalam kemiskinan, memohon agar diijinkan ayahnya untuk merantau. Ia berharap di tempat baru nanti ia akan dapat mengubah nasib dan bisa membahagiakan sang ayah.

Intobu, meskipun berat hati, mengizinkan Impalak pergi dengan nasihat agar ia tidak melupakan keluarga, khususnya ayahnya. Namun, seiring berjalannya waktu, Impalak tidak pernah kembali dan tidak mengirimkan kabar. Hati Intobu dipenuhi kecemasan dan kerinduan terhadap anaknya.

Baca juga: Kisah Datuk Letang dan Bayi Sakti Dari Belahan Kayu

Suatu hari, saat mencari ikan di pelabuhan menggunakan sampan kecilnya, Intobu melihat perahu Bagga yang megah bersiap untuk berlabuh. Ia terkejut saat menyadari bahwa perahu itu milik Impalak yang ternyata telah kaya raya.

Intobu pun memanggil-memanggil Impalak. Namun sang anak mengabaikannya.  Impalak rupanya merasa malu dengan keadaan ayahnya yang masih miskin. Menyaksikan sikap durhaka anaknya, Intobu merasa sangat kecewa. Tak lama, ombak besar datang menggulung sampan kecilnya, membuatnya terbalik. Dalam kepedihan, Intobu berdoa kepada Tuhan, meminta hukuman bagi anak yang melupakan orang tuanya.

Seiring doanya, ombak yang sangat besar menghantam perahu Bagga, mengakibatkan Impalak dan perahunya karam dan terdampar di daratan. Dalam sekejap, Impalak dan perahu bagga itu berubah menjadi batu, yang kini dikenal sebagai Batu Bagga.

Legenda ini tidak hanya menjadi simbol dari tindakan durhaka, tetapi juga mengingatkan masyarakat tentang pentingnya menghargai orang tua dan menjaga hubungan keluarga.

Baca juga: Cerita Batu Ampar, Legenda Si Badang Yang Perkasa

Batu Bagga kini dianggap sebagai tempat yang sakral dan memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat lokal. Di sisi lain, wisatawan yang datang dapat juga merenungkan makna dari legenda ini. Batu Bagga berfungsi sebagai pengingat akan nilai-nilai keluarga dan tanggung jawab sosial dalam masyarakat suku Kaili (suku yang banyak mendiami provinsi Sulawesi Tengah).

Cerita ini menunjukkan bagaimana kesombongan dan pengabaian terhadap keluarga dapat mengakibatkan konsekuensi yang serius. Selain itu, legenda ini juga mengajarkan pentingnya kasih sayang dan penghormatan kepada orang tua.

Sebagai bagian dari warisan budaya Sulawesi Tengah, legenda Batu Bagga tidak hanya menyimpan kisah yang mendalam, tetapi juga menjadi salah satu atraksi wisata yang menarik.

Masyarakat setempat sering menceritakan kisah ini kepada generasi muda, memastikan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam cerita ini tetap hidup dan relevan di zaman modern. legenda Batu Bagga telah menjadi simbol dari kepercayaan dan tradisi yang kaya, menggambarkan identitas masyarakat Kaili yang tak ternilai harganya. (Sumber: kebudayaan.kemdikbud.go.id)

TopikCerita Rakyat
Cerita Rakyat30 OKT 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Cerita Rakyat

Lihat semua →

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan