Cerita Rakyat

Legenda Batu Belah, Kisah Pengorbanan Ibu dari Aceh

Salah satu cerita rakyat yang melegenda di Aceh adalah kisah Atu Belah Atu Betangkup (Batu Belah, Batu Betangkup) yang berasal dari daerah Takengon, Aceh Selatan. Dalam Bahasa Indonesia, Atu Belah berarti “batu terbelah.” Legenda ini mengisahkan sebuah keluarga miskin yang harus menghadapi konflik besar akibat kecerobohan, hingga membawa mereka pada akhir yang tragis. Kisah yang […]

Oleh Achmad Aristyan

Legenda Batu Belah, Kisah Pengorbanan Ibu dari Aceh
Diterbitkan

Salah satu cerita rakyat yang melegenda di Aceh adalah kisah Atu Belah Atu Betangkup (Batu Belah, Batu Betangkup) yang berasal dari daerah Takengon, Aceh Selatan.  

Dalam Bahasa Indonesia, Atu Belah berarti “batu terbelah.” Legenda ini mengisahkan sebuah keluarga miskin yang harus menghadapi konflik besar akibat kecerobohan, hingga membawa mereka pada akhir yang tragis.

Kisah yang diceritakan dalam video di kanal YouTube Dongeng Kita ini menyimpan pesan moral mendalam yang masih relevan hingga saat ini.  

Baca juga: Kisah Pejuang Nyi Ageng Serang, Pengatur Strategi Perang

Pemburu Belalang

Di sebuah desa kecil di Tanah Gayo, hiduplah keluarga petani yang terdiri atas ayah, ibu, dan dua anak laki-laki. Kehidupan mereka dipenuhi dengan perjuangan karena kemiskinan yang mendera. 

Ayah bekerja keras mengolah ladang dan berburu di hutan untuk menghidupi keluarganya. Jika sedang beruntung, ia membawa pulang rusa hasil buruannya. 

Namun, sering hasil buruan hanyalah belalang, yang kemudian disimpan di lumbung. Sang ayah selalu mengingatkan istrinya untuk menjaga belalang-belalang itu dengan menutup pintu lumbung, karena itu adalah sumber makanan utama keluarga saat musim paceklik.  

Kesalahan Si Sulung 

Pada suatu hari, sang ayah pergi berburu ke hutan, berjanji akan membawa pulang daging rusa. Sementara itu, ibu dan kedua anaknya menunggu di rumah. 

Ketika rasa lapar melanda, sang ibu meminta anak sulungnya mengambil belalang dari lumbung. Namun, si sulung lupa menutup pintu lumbung setelah mengambil belalang. 

Akibatnya, belalang-belalang yang dikumpulkan dengan susah payah terbang keluar. Saat ayah pulang tanpa hasil buruan, ia mendapati lumbung kosong. 

Kemarahannya memuncak, dan ia melampiaskannya pada istrinya. Dengan penuh amarah, ia mengusir sang ibu dari rumah, meskipun ia tahu istrinya selalu berkorban untuk keluarganya. 

Baca juga: Kisah Asmara Dalam Legenda Putri Naga Pulau Komodo

Batu Terbelah

Penuh kesedihan dan merasa tak dihargai, sang ibu pergi meninggalkan rumah tanpa arah. Di tengah hutan, ia menemukan batu ajaib yang konon dapat menelan manusia yang sedang putus asa. 

Dengan pilu, ia melantunkan mantra Bahasa Gayo “Atu belah, atu bertangkup nge sawah pejaying te masa dahulu…” yang berarti “Batu belah, batu bertangkup, sudah tiba janji kita masa lalu..”.

Setelah mantra itu diucapkan, batu itu membelah dan menelan sang ibu perlahan. Kedua anaknya yang diam-diam mengikuti di belakang hanya bisa menangis melihat kejadian itu.

Sebelum tubuhnya hilang, sang ibu memberi tujuh helai rambutnya untuk kedua anaknya. Rambut itu lalu dijadikan jimat sebagai kenangan atas kasih sayang sang ibu yang luar biasa. Konon, peristiwa ini disertai hujan lebat dan bumi bergetar, seolah ikut berduka atas nasib tragis keluarga itu.  

Pesan Moral dari Kisah Atu Belah Atu Bertangkup

Cerita ini menyampaikan beberapa pesan moral penting:  

  1. Hindari Kecerobohan, Kecerobohan sekecil apa pun dapat berujung pada kerugian besar, seperti yang dialami keluarga ini.
  1. Pentingnya Sifat Pemaaf, Kemarahan dan dendam hanya membawa kehancuran. Jika sang ayah lebih pemaaf, keluarganya tidak perlu kehilangan sosok ibu yang penuh kasih.
  1. Pengorbanan Orang Tua, Kisah ini juga menggambarkan betapa besar pengorbanan seorang ibu untuk anak-anaknya, meskipun ia sendiri harus menanggung penderitaan.
TopikCerita Rakyat
Cerita Rakyat25 DES 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Cerita Rakyat

Lihat semua →

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan