Cerita Rakyat

Legenda Batuwangi dan Sumpah Tujuh Turunan

Garut dikenal memiliki sejumlah cerita rakyat yang kaya akan nilai-nilai kehidupan, salah satunya adalah legenda Situ Bagendit, yang telah banyak diangkat ke berbagai media, baik buku maupun layar kaca. Namun, di balik kisah-kisah besar tersebut, ada cerita rakyat yang tak kalah menarik dan menyimpan pelajaran hidup yang mendalam, yaitu legend Batuwangi yang berasal dari Kecamatan […]

Oleh Achmad Aristyan

Legenda Batuwangi dan Sumpah Tujuh Turunan
Ilustrasi panorama alam kawasan Singajaya, Garut, Jawa Barat. Foto: Tangkapan layar Yotube/Garut Turunan Kidul
Diterbitkan

Garut dikenal memiliki sejumlah cerita rakyat yang kaya akan nilai-nilai kehidupan, salah satunya adalah legenda Situ Bagendit, yang telah banyak diangkat ke berbagai media, baik buku maupun layar kaca. Namun, di balik kisah-kisah besar tersebut, ada cerita rakyat yang tak kalah menarik dan menyimpan pelajaran hidup yang mendalam, yaitu legend Batuwangi yang berasal dari Kecamatan Singajaya, Garut.

Cerita rakyat Batuwangi ini telah dikenal luas masyarakat Singajaya dan disampaikan secara lisan dari generasi ke generasi. Meski tidak sepopuler cerita Situ Bagendit, Batuwangi memiliki alur cerita yang mengandung petuah dan nilai moral yang bisa dijadikan pelajaran hidup. 

Dikutip dari tulisan Iin Indrayani, Riksa Bahasa Volume 1, Nomor 1, Maret 2015, legenda Batuwangi berpusat pada tokoh Mbah Dalem, seorang ulama Islam yang tinggal di Singajaya. Mbah Dalem memiliki dua orang anak yaitu seorang putra dan seorang putri. 

Suatu hari, putri Mbah Dalem menikah dengan seorang pemuda asal Tasikmalaya, yang membuat Mbah Dalem menggelar sebuah pesta pernikahan besar-besaran. Pesta pernikahan diwarnai dengan berbagai rangkaian acara tradisional, seperti huap lingkung dan pabetot-betot bakakak hayam (pemotongan ayam sebagai bagian dari ritual). 

Namun, dalam salah satu rangkaian acara, ketika ayam dipotong, terjadi sebuah kejadian yang mengubah suasana bahagia menjadi tragis. Kepala ayam yang dipotong terjatuh dan menumpahkan noda ke pakaian pengantin wanita, tepat di bagian dada.

Baca juga: Legenda Ki Pande Gelang, Asal Nama Kota Pandeglang

Ketika pengantin wanita panik dan meminta bantuan untuk membersihkan noda, sang kakak laki-laki segera datang untuk membantunya. Namun, kehadiran sang kakak yang hanya berniat membantu disalahartikan pengantin pria. 

Sang pengantin pria merasa tindakan sang kakak tidak pantas dan merespons dengan kemarahan yang semakin membesar. Meski pengantin wanita dan kakaknya mencoba menjelaskan bahwa tidak ada maksud buruk dari kejadian tersebut, pengantin pria tetap tidak terima dan semakin marah. 

Pertengkaran antara sang kakak dan pengantin pria pun tidak dapat dihindarkan. Ketegangan semakin memuncak hingga kedua pria ini terlibat dalam perkelahian yang sengit.

Pengantin wanita berusaha memisahkan mereka, namun usahanya sia-sia. Pertengkaran yang berlanjut menyebabkan keduanya saling melukai hingga akhirnya mengarah pada peristiwa tragis dimana kedua pria saling membunuh satu sama lain.

Baca juga:  Cerita Batu Ampar, Legenda Si Badang Yang Perkasa

Pesta pernikahan yang awalnya diadakan dengan penuh sukacita berakhir dengan kesedihan yang mendalam. Pengantin wanita kehilangan suami dan kakaknya dalam satu kejadian yang mengerikan. 

Hancur hatinya, ia pun memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Mbah Dalem, yang kehilangan dua anaknya dalam waktu bersamaan, sangat terpukul dan merasa sangat bersalah atas tragedi itu.

Sebagai akibat dari tragedi yang menimpa keluarganya, Mbah Dalem bersumpah bahwa ia dan keturunannya, hingga tujuh generasi ke depan, tidak akan pernah memakan kepala ayam. Sumpah ini menjadi pedoman yang sangat dihormati keturunan Mbah Dalem di Singajaya. Bahkan hingga saat ini, para keturunan Mbah Dalem masih memegang teguh sumpah dan menjadikannya sebagai bagian dari warisan moral yang harus dijaga. 

TopikCerita Rakyat
Cerita Rakyat25 NOV 2024

Tentang Penulis

Komentar

Ingin ikut berdiskusi?

Lainnya dari Cerita Rakyat

Lihat semua →

Lainnya dari Achmad Aristyan

Lihat semua →
Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Munusa Championship Digelar di Wonosobo, Wadah Kreativitas dan Sportivitas Pelajar

Gelaran Munusa Championship 2025 resmi diselenggarakan di GOR Indoor Wonosobo sejak 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kompetisi futsal pelajar yang dirancang Munusa Management ini menghadirkan atmosfer baru dengan menggabungkan turnamen futsal tingkat SMP dan SMA serta lomba battle supporter yang sarat kreativitas. Dalam wawancara bersama media, Zulhan Choirul Muhayat selaku founder Munusa Management mengungkapkan

Achmad Aristyan
Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Indonesia dan Prancis Bangun Kemitraan Budaya untuk Pererat Hubungan Diplomatik

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) Kerja Sama Budaya dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, dalam sebuah seremoni di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (28/5/2025). Penandatanganan ini bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, ke Indonesia, yang sekaligus menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan kebudayaan kedua negara. Kesepakatan ini merupakan tindak

Achmad Aristyan
Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Kodim Wonosobo dan Bulog Jemput Bola Serap Gabah Petani Sojokerto

Suasana berbeda tampak di hamparan sawah Dusun Wonokasihan, Desa Sojokerto, Kecamatan Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah saat jajaran Kodim 0707/Wonosobo bersama tim dari Bulog terjun langsung mendampingi petani dalam panen raya. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi jemput bola dalam penyerapan gabah petani, sekaligus wujud nyata dukungan terhadap program Ketahanan Pangan Nasional. Di tengah aktivitas panen,

Achmad Aristyan